Kamis, 17 April 2008

LOMBA MENULIS CERITA PENDEK
PROGRAM REGULER 2008
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
(Gedung E. Lantai 14 jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270)



1. MOTTO
Menyelami sastra, memperluas cakrawala bahasa, memperkokoh budaya bangsa

2. TEMA CERPEN
Cinta, Kemanusiaan, Kebangsaan, Lingkungan, Perdamaian, Bencana Alam, Kearifan lokal.

3. PERSYARATAN PESERTA :
- Peserta adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/SMK/MA dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah
- Belum pernah lolos dalam25 Besar LMCP sebelumnya (peserta yang pernah lolos dalam 25 besar LMCP sebelumnya akan diikutsertakan dalam program khusus)

4. PERSYARATAN CERPEN
- Cerpen adalah karya asli dan belumpernah dipublikasikan di media apapun
- Panjang cerpen 5-20 halaman kuarto, 1,5 spasi (1500-6000 kata)
- Peserta boleh mengirim lebih dari 1 naskah, dengan catatan hanya 1 naskah terbaik yang akan dipertimbangkan menjadi pemenang
- Di halaman akhir tulisan (halaman terpisah) ditulis identitas dan alamat lengkap penulis serta no. Telepon/ HP yang dapat dihubungi.

5. PENGIRIMAN CERPEN
- Cerpen ditulis sebanyak rangkap 3, dimasukkan dalam amplop. Pada bagian luar ditulis ” LMCP PROGRAM REGULER 2008” diantar langsung/ dikirim paling lambat tanggal 30 Mei 2008 (stempel pos)
-Cerpen dikirim ke alamat:
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEGIATAN PEMBINAAN PENDIDIKAN ESTETIKA
PADA SUBBAG RT. BAGIAN UMUM
SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL, GEDUNG E LANTAI 14
JALAN JENDERAL SUDIRMAN, SENAYAN. JAKARTA 10270

6. PENGUMUMAN PEMENANG
- Panitia akan memilih 20 peserta terbaik untuk mengikuti seleksi final di Jakarta
- Selama mengikuti seleksi final di jakarta, panitia menyediakan biaya transportasi dan akomodasi.
- Pemenang LMCP 2008, akan diumumkan pada tanggal 16 Agustus 2008

7. HADIAH
- Panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut.
Pemenang 1 : Rp 6.500.000
Pemenang 2 : Rp 6.000.000
Pemenang 3 : Rp 5.500.000
Pemenang 4 : Rp 5.000.000
Pemenang 5 : Rp 4.500.000
Pemenang 6 s.d 10 : Rp 4.000.000
Pemenang 11 s.d 15 : Rp 3.500.000
Pemenang 16 s.d 20 : Rp 3.000.000
- Pajak hadiah sebesar 15 % (PPH Psl 21 ) ditanggung pemenang
- Kepada semua peserta akan diberikan piagam penghargaan

8. KETENTUAN PANITIA
- DEPDIKNAS berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih
Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

9. LAIN-LAIN
Untuk informasi lebih lanjut hubungi panitia penyelenggara, kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika, Jakarta Sub Bag RT. Bagian Umum Set Ditjen Mandikdasmen Telp (021) 5725616, atau 5725061 (pesawat 6402)
Email : estetika.mandikdasmen@yahoo.co.id
Siluet Senja untuk Cinta



Langit itu mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasai oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung ataupun hujan sekalipun. “tidak….tidak akan terjadi hujan” bisikku lirih,diantara seribu kegundahan yang mulai menembus labirin dalam persendian dan relung hati, mencoba tuk mengeja bahakan berkata dalam kebingungan yang besar “Bunda akan pulang Nak, tunggu dengan sabar ya!” itulah kalimat bunda yang kudengar di telepon, waktu aku menanyakan kapan kedatangannya. Aku sudah tidak sabar menantinya. Bunda berjanji akan pulang membawakan hadiah boneka yang bagus…yang pasti juga cantik seperti diriku, katanya.


Kutatap lagi langit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
“ Emh…Bunda masak apa nih? Baunya sedap banget!!! Itu kan cuni-cumi goreng kesukaan Cinta, benar kan Bunda? Tanyaku waktu itu.
” Iya...Cinta, Bunda lagi masak makanan kesukaanmu” ucap Bunda lembut.
” Juga kesukaan papa kan...Bunda” ucapku riang.
Namun sepi, karena selanjutnya yang kudengar hanya bunyi penggorengan yang beradu dengan dentingan pisau.
” Pasti Bunda lagi sibuk banget” pikirku. Aku segera beranjak pergi meninggalkannya. Yah...mungkin ke taman bunga di belakang rumah akan menyejukkan dan membuat pikiranku menjadi jernih kembali.
*****


Sudah ketiga kalinya bunda selalu menghindar, ketika kutanyakan perhal tentang papa. Sosok yang seharusnya menemaniku pada masa-masa sulit seperti ini. Masa yang benar-benar aku ingin merasakan dukungan dari keluarga, yang setidaknya bisa membebaskanku dari segala kejenuhan hidup, dan perlahan dapat memberi warna tersendiri bagi jiwa, meskipun aku tidak pernah dapat merasakan warna sesungguhnya, mungkin selamanya.

Papa...sosok yang begitu kuyakini dapat mendukung sepenuhnya, membuat hidupku kembali seperti senja yang menawarkan beribu keindahan dalam tiap hati manusia ketika bersamaku, menebarkan aroma keharuman dalam hati yang telah lama rapuh untuk beberapa saat, dan kini untuk waktu yang lama, bahkan sampai akhir hayat.

Papa...sosok yang akhirnya kuketahui nahwa ia telah meninggalkanku dan bunda, ketika vonis dokter yang mengatakan seperti itu. Vonis yang seharusnya tudak ditimpakan untukku, karena aku tidak pernah tahu tentang jalan hidup yang akhirnya seperti ini, membuat keluarga yang kucintai harus berpisah karena kehadiran seorang Cinta Restu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama yang cantik.

aang juga akan memberi berkah bagi masyarakat sekitbagi diri dan keluarRestu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama Nama yang diharapkan dapat membawa kebahagiaan dan cinta bagi diri dan keluarganya. Vonis itu...yang seharusnya bukan untukku!!! Tapi aku sadari di usia yang ke-19 tahun ini, bahwa ternyata aku hanyalah sebuah lakon kehidupan yang mementaskan sebuah peran di atas panggung sandiwara yang penuh dengan segala liku-iku kemunafikannya.

Aku tak punya pilihan untuk meminta peran yang lebih baik, karena memang aku hanyalah sebuah lakon yang pasrah pada keputusan sang Sutradara. Andai aku dapat meminta peran yang lebih baik daripada hidupku sekarang ini, pasti aku akan meminta pada sang Sutradara untuk mengembalikan keluargaku dan mematikan saja peranku. Yah...mungkin jika diberi pilihan, maka pilihan yang terbaik yang kan kuambil ialah aku tidak ingin dilahhirkan ke dunia ini, dunia yang menurutku penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan juga kemunafikan.
*****

Masih coba kutatap lagi kangit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
” Bunda...aku ingin bertanya tentang satu hal” akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur pada bibirku, setelah 19 tahun aku memendam perasaan ini. Pertanyaan yang seharusnya tak kuucapkan dari bibir bodoh ini, karena aku yakin akan membuat hati bunda terluka. Tetapi, sungguh, kali ini aku tak peduli, aku ingin mengetahui keberadaan tentang papa.
” Yah...bertanyalah Cinta..”Ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutku
Yah...Bunda selalu begitu, beliau ingin meyakinkanku bahwa dia akan memberikan jawaban yang bagus dan tentu saja akan membuatku selalu puas. Bunda memang istimewa bagiku!!! Emh..sejak kapan Papa pergi meninggalkan rumah ini, bunda? Dengan penuh keraguan, dan entah kekuatan besar apakah yang menyusup dalam jiwa, sehingga membuatku berani bertanya tentang hal yang sebelumnya aku telah berjanji untuk tidak akan pernah membuka kenangan lama itu. Tapi...aku butuh jawaban itu, sekarang!!!

Sebelum semuanya terlambat. Tapi apakah masih belum dapat dikatakan terlambat bila aku telah menunggunya selama 19 tahun??? Mengapa engkau tanyakan hal seperti itu lagi, cinta? Tanya bunda kembali, masih dengan suara yang lembut. Tapi perlahan, aku mendengar perubahan suaranya yang mulai berubah. Menangiskah oa, marahkah ia padaku?
” Aku hanya ingin mengetahuinya, bunda” jawabku lirih sambil mencoba meraih bahu bunda,aku ingin memeluknya.
” Cinta...apakah kehadiran Bunda bagimu belum cukup untuk menggantikan seorang papa? Gumam bunda perlahan. Aku merasakan ada goresan kesedihan yang ada di wajahnya. Wajah Bunda yang mungkin sangat cantik, melebihi kecantikan yang ada pada diriku, seperti yang yang dikatakan orang-orang padaku. Itulah pertanyaan terakhir yang kulontarkan pada bunda. Biarlah aku akan berfikir tentang sosok papa yang aku rasakan dan gambar dalam imajinasiku saat ini, biarlah aku tidak pernah mengenal tentang siapa nama dan wajahku sesungguhnya, karena aku tidak memerlukannya. Toh...bagiku bunda sudah cukup.

Aku tidak mau menyakiti hati bunda lagi dan menorehkan kembali luka di hati sucinya hanya untuk sebuah pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang sudah coba untuk kukuburkan selama 19 tahun ini. Maafkan Cinta Bunda, karena bagiku kau sudah cukup bahkan lebih daripada sekedar menggantikan tempat papa di sampingku.
*****

Masih coba kutatap lagi langit yang mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
Tapi...ternyata hari ini aku salah, hari ini mungkin langit tidak cerah, langit tidak berwarna biru bersih dan langit tidak dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya.

” Itu yang namanya siluet senja, cinta” ucap Bunda saat membawaku ke sebuah pantai yang kata beliau sangat indah, bila aku dapat melihatnya, tentu saja melihat dengan bayangan hatiku.
” ada berbagai warna berpendar di sana, diantara siluet senja. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, Cinta. Senja tak pernah mengeluh dalam memberikan penerangan bagi umat di dunia. Ia harus jadi lentera dan pelita yang indah bagi penduduk bumi, walaupun dengan itu, ia harus rela berkorban untuk terus menerus berganti warna. Senja tak perlu menyadari, apa makna pergantian warna baginya, karena ia tak cukup banyak waktu untuk melihat keindahan yang ada pada dirinya sendiri. Ia sudah cukup bersyukur dengan cahayanya yang sangat cantik menurut banyak orang, karena ia takkan pernah melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar yang menurut dia akan berkata jujjur tentang kecantikan yang selama ini dibicarakan orang tentang dirinya.
Yang perlu ia tahu ialah bahwa orang-orang di sekitarnya sangat menantikan kedatangan sang senja. Ia tidak perlu melihat dengan matanya, karena ia punya mata yang lebih peka dari sepasang mata yang menurut senja penuh kemunafikan. Mata itu adalah mata hati. Sekali lagi ia tidak perlu melihat dengan sepasang matanya tentang kekaguman orang-orang di sekitar akan cahayanya yang indah, karena itu dengarlah Cinta, sesunguhnya Tuhan lebih tahu akan hati seorang senja dengan mengambil sepasang matanya, agar ia dapat merasakan tentang kepuasan jiwa akan sinar yang dipancarkan oleh sang pencipta.

Tuhan tidak pernah tidur, Cinta....karena ia telah berkenan mengganti mata senja dengan sebuah mata Tuhan. Mata hati yang lebih suci, yang tidak akan pernah berbohong, tentang suatu hal dalam kehidupan” ucap bunda panjang lebar di akhir pembicaraanya.
*****

” Maafkan Aku Bunda!!!” ucapku pelan, tak dapat kupendam segala haru biru yang menghimpit persendianku, saat kucoba berdiri dari tanah merah basah yang sedari tadi terdiam menyemayamkan tubuh bidadariku, bundaku untuk yang terakhir kalinya. Masih kupeluk erat boneka yang dulu pernah diberikan bunda di usia19 tahun yang lalu...

Selamat jalan Bunda, semoga kau bahagia di sisi-Nya...Amin
 


MENANTI RINDU DI ATAS PUSARA



Hai jiwa yang tenang
Kembalilah pada TuhanMu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku
Dan masuklah ke dalam surgaku (Q.S.AL Fajr Ayat 27-30)



Akhir April 2006, Surabaya, Kala Matahari Tenggelam

Kusibakkan tirai biru bermotif kotak-kotak, yang sedari tadi menutup jendela kamarku.Kulirik seiko di pergelangan tangan kananku.
Emh...masih belum terlalu malam, untuk kembali menyelesaikan satu lagi tugas dari Dosen Favoritku,yah...lagi-lagi aku harus membuat cerpen.Kali ini cerpen tentang pengalaman kisah hidup kilas balik (flash back).Duh...kira-kira apa yang akan kutulis pada cerpen ini yah??.Sesaat aku merenung, pandanganku tertuju pada diari mungil yang bersandar manis pada tumpukan kumpulan cerpen-cerpen lawasku,cerpen yang belum sempat kupublikasikan ke media massa atau ...jangan-jangan cerpen-cerpen itu yang pernah dikembalikan oleh media massa karena tak layak muat..he..he..he
Kapan yah, terakhir kali penaku menari-nari diatas diari mungil itu??
Uff...Kutiup keras-keras debu yang melekat pada sebagian diari mungil itu,yang tentu saja berwarna biru, warna favoritku, dengan tebal kira-kira 100 halaman. Perlahan ...kucoba kembali membuka halaman demi halaman di dalamnya, dan tertulis...


22 Desember 2005, Kala Fajar Merekah


Hari ini, kembali aku menemukan senyuman terindah dari seseorang.Seseorang yang pernah membuat hidupku terlalu” berharga”untuk ditelantarkan.Seseorang yang pernah membuat hidupku benar-benar seperti ”emas” yang tentu saja,membuat orang lain merasa iri untuk melihatnya.Dan juga seseorang yang pernah....walaupun sebentar mengajariku tentang arti kehidupan yang sebenarnya, serta seseorang yang selalu menghibur dan memanjakanku setiap waktu...
Tapi, sayang, senyuman itu hanya ada dalam bingkai foto ukuran 20cmx20cm yang tergantung dengan manis di dinding kamarku.
Saat fajar ini merekah dalam hidupku, aku ingin mengucap:

SELAMAT MEMPERINGATI HARI IBU



5 Juni 2001, Mojokerto Pagi

Kutatap setiap soal-soal EBTANAS tingkat SLTP Mata Pelajaran bahasa Indonesia dengan mata kabur. Kumainkan pensil 2B dan perlahan kuketuk-ketukkan ke bangku.

Tok..tok..tok.satu menit ...dua menit...tiga menit hanya kegiatan itulah yang berhasil aku lakukan. Kuperiksa kembali jawaban soal yang ada di dalam LJK(Lembar Jawaban Komputer), yang berwarna merah, masih serkitar sebagian yang terisi,masih jauh dari sempurna.Tapi ...aku sudah sudah bosan, aku jenuh!!!
Kucoba mengalihkan pandangan ke luar jendela, yang berada tepat disampingku. Kulihat seorang ibu menggendong anaknya yang sedang menangis. Perlahan tes...tes...tes air mataku tumpah di sela-sela pipiku.
Tuhan...tidak adil!!!!

3 juni 2001, Solo, Saat Kelabu

”Zahra ..sudah nduk, ayo kita pergi meningggalkan tempat ini!”ucap ayah lembut.
”Iya dek Zahra, biarkan bunda menempati tempat barunya dengan damai” sambung kak ana, kakakku tertuaku.
”Ayah, kak Ana, tolong tinggalkan aku sendirian disini, aku masih ingin bersama bunda, aku rindu bunda” ucapku di sela isak tangis yang semakin keras.
Detik ini,aku mengalami episode baru dalam hidupku, episode yang tidak mungkin terlupa sepanjang waktu. Episode yang telah tertulis dalam skenario langit-Nya.Yang memang aku harus tabah dalam memainkannya. Meskipun ironisnys aku tidak suka terhadap peran yang ditawarkan. Bukan!!!bukan ditawarkan, tetapi dibebankan di pundakku, tanpa sanggup untuk sekedar melawannya.

Kutatap sekali lagi, helaian kamboja yang jatuh tepat di atas gundukan tanah merah basah yang ada di depanku. Ada beberapa kelopak kamboja yang jatuh disekitar bunga-bunga yang telah lebih dahulu ditaburkan oleh kerabat keluargaku.
Aroma bunga yang menyeruak di sekitar pusara itu, seakan masih menyisakan sedikit riak kebencianku pada semuanya, pada Ayah, Kak Ana dan juga pada Tuhan, yang tega mengambil bunda dari sisiku.

2 Juni 2001,R.S D.R Moewardi Solo.

Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, ketika kakiku menjejakkan kaki di Rumah Sakit D.R.Moewardi Solo ini. Hanya ada setetes harapan dalam hati.Yah..hanya setetes karena harapanku telah terkubur untuk semuanya, harapan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan bunda. Aku melangkah masuk kamar Cendana nomor 6. Tuhan...selamatkan bunda hamba, Engkau tahu aku ingin membahagiakannya sekali saja.Tuhan..ijinkan Aku, Aku mohon kepada-Mu, Aku ingin melihat senyum bunda untuk terakhir kalinya. Tuhan...jika Engkau berkenan, gantikan nyawaku untuk bunda...

Kulihat Ayahku, ada disamping bunda, beserta saudara-saudara yang lain. Ayah berair memelukku dengan erat, sambil berbisik lirih “Zahra, sabar nduk, Bundamu sudah menemukan tempat terbaik-Nya, yaitu di sisi-Nya, Ikhlaskan ya, Nduk”
Tak kudengar lagi, kelanjutan kata-kata Ayah, karena perlahan pandanganku terasa kabur, tubuhku melemah dan sempat kulihat bunda di sudut ruangan kamar ini, sedang tersenyum dan melambai padaku, dan selebihnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.Tuhan...ini tidak adil bagiku!!!


31 MEI 2001

“Mengapa kak Ana, harus menyembunyikan semuai ini?”Tanyaku keras pada kak Ana suatu sore.
”Menyembunyikan apa Zahra? Apa maksudmu??”ucap kak Ana lembut
”Selama ini, kak Ana selalu bilang, bahwa keadaan bunda baik-baik saja, kakak juga bilang bahwa bunda akan sembuh, tapi apa??Ucapku dengan nada keras sambil melemparkan kertas yang sempat kutemukan kemarin di kamar bunda.
”Zahra,dengarkan kak Ana dulu jangan emosi”ucapku lembut.
”Kakak bohong!!!Mengapa tidak memberi kesempatan padaku untuk sekedar menjenguk bunda di rumah sakit D.R.Moerwardi atau sekedar tahu keadaan bunda,mengapa kak???”Ucapku dengan pandangan nanar.

”Zahra, kakak tau Zahra harus berkonsentrasi pada EBTANAS tahun ini, jadi kakak hanya ingin membuat Zahra tenang. Bunda sendiri memberikan amanah pada kakak agar melarang kamu menjenguk atau bahkan sekedar mengetahui kondisi Bunda. Bunda takut kamu akan down, begitu melihat kondisi bunda sesungguhnya.Yang terpenting kamu berdoa buat bunda

30 Mei 2001, Mojokerto menangis...

Hari ini, aku melihat fakta tentang semuanya, tentang kepura-puraan bunda yang menutupi semua penyakitnya, juga tentang kelihaian kak Ana menutupi semuanya, tentang penyakit bunda.
Yah...aku menemukan surat hasil check-up bunda selama 3 bulan terakhir ini, di laci kotak rias bunda, ketika tak sengaja aku ingin mengambil lipgloss yang sempat dipinjam oleh bunda tempo hari, aku berhasil menemukan fakta semuanya.
Itulah penyakit yang selama ini diderita bunda. Baru kali ini aku mengetahuinya, mengapa tidak dari dulu??? Sehingga aku bisa membahagiakannya??? Inikah yang dinamakan keadaan dalam kehidupan??? Ucapku keras.


27 April 2001, Mojokerto


” Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu, kak? Tanyaku pada kak Ana.
” Tidak apa-apa dek” jawab kak Ana, sambil memalingkan wajahnya dariku, tapi terlambat, kulihat mata kak Ana memerah, dia menangis. Tuhan...ada apa sebenarnya???
” Bicaralah padaku tentang keadaan bunda, aku yakin aku kuat mendengarnya. Aku sudah kelas 3 SLTP, aku sudah dewasa bukan? Aku tidak perlu sebuah kepura-puraan, aku ingin kejujuran ” jawabku lemah.
” Zahra dengarkan kakak, bunda baik-baik saja, dan kamu masih ingat kan pesan bunda, sebelum beliau menjalani perawatan di rumah sakit D.R Moewardi Solo?” lanjut kak Ana lembut.
Yah...aku masih ingat, aku harus lulus EBTANAS SLTP tahun ini dan masuk SLTA I Puri Mojokerto dengan NEM yang bagus.
” Tapi, mengapa mesti dibawa ke Solo? Apa perawatan di Mojokerto atau Surabaya tidak canggih?” tanyaku hampir menangis.
” Sst...Zahra sayang, bunda memang lebih memilih di Solo, soalnya hawa di sana lebih tenang, lagian di sana kan banyak saudara-saudara kita, jadi kesehatan bunda lebih terjamin” terang kak Ana , berusaha meyakinkanku...
kulihat kedua mata kak Ana, mencoba mencari kejujuran di sana.
” kak Ana,nggak bohong kan? Tanyaku polos.
” Zahra, kak Ana nggak pernah bohong, percaya sama kak Ana ya...” ucap kak Ana sambil mencium keningku lembut.

25 Maret 2001, Mojokerto

Zahra belajarnya, jangan terlalu larut malam, nanti sakit lo...Dijaga dong kesehatannya, udah kelas 3 SLTP kok masih seperti anak kecil” kata Bunda sambil duduk di tepi ranjangku, sambil membawakan segelas susu cokelat untukku.
” Bunda...nanggung nih, bentar lagi juga selesai, bunda kan pingin liat aku lulus dengan NEM bagus kan? Ucapku bersemangat.
23 Maret 2001
” Zahra, kamu hafal surat yasin? Tanya Bunda
” Yasin??? Emh...nggak begitu hafal bunda, memangnya kenapa? Jawabku kala itu.
”lho kok gak hafal, Zahra kan ngaji sama Pak Ustadz udah lama, masak belum hafal-hafal” ucap bunda lembut.
” ya... emang ngajinya udah lama, tapi kalau surat yasin, mungkin sekitar 50 ayat pertamanya udah lumayan hafal. Memangnya buat apaan sih bunda? Tanyaku penuh tanya.
” Zahra...kalau sewaktu-waktu bunda dipanggil sama Tuhan, jangan lupa untuk selalu mendoakan bunda dengan surat yasin yah? Pinta Bunda.
” Bunda, kenapa mesti ngomong seperti itu, bunda nggak boleh meninggal, bunda harus terus hidup sampai Zahra jadi manusia yang bisa membahagiakan bunda.
” Zahra...umur orang kan kita nggak pernah tahu sayang” ucap bunda
” Bunda, kalau misalnya aku yang duluan gimana? Tanyaku tiba-tiba
” Zahra...bunda sayang banget sama kamu,lebih baik bunda yang lebih dulu meninggal, daripada harus melihat zahra yang meninggal lebih dulu.Zahra ingat kan, waktu Zahra harus diopname dirumah sakit, bunda merasa saat itulah jiwa bunda sudah hilang sebagian”
” Ah...bunda bisa saja” jawabku polos.

20 Maret 2001

”Bunda...lagi masak apa nih? Teriakku membuat kaget bunda
” Zahra...sudah pulang to, mana salamnya? Jawab bunda
” Udah kok bunda dari tadi, tapi bunda yang nggak dengar, aku kira nggak ada orang, ternyata sedang sibuk di dapur rupanya? Jawabku panjang lebar
”Ya..ya,anak cantik.Ini bunda lagi buat cumi-cumi goreng kesukaan kamu” ucap bunda lembut, sambil membawa piring penuh dengan cumi-cumi goreng ke dekat hidungku.
” Wah...asyik nih, makasih bunda: jawabku sambil memcium pipi bunda.


13 Maret 2006, Solo

Hari ini sudah 5 tahun bunda pergi meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan yang pernah terajut dalam buaian kenyataan yang berpadu dalam suka dan duka. Kucium pusara bunda, sebelum air mata ini menetes semakin deras.

Maafkan aku Bunda, mungkin aku bukan anak yang shalihah, seperti yang bunda harapkan, bahkan disaat terakhir kalipun, aku tak sempat melihat wajah tenangmu, anak durhakakah aku, bunda???

Hanya doa tulus dan surat Yasin inilah yang bisa kuhadiahkan padamu tiap hari, agar kau tenang berada disisi-Nya. Moga engkau selalu menyertai langkahku, Bunda. Aku akan membuatmu bahagia, meskipun engkau hanya bisa menatapku dari surga.

SELAMAT ULANG TAHUN BUNDA...AKU SELALU MERINDUKANMU