Jumat, 2008 November 14

Bundaaaa.....

Letih jiwa ini mengais waktu yang tak kunjung datang....
rapuh kalbu ini saat kulihat anak-anak mulai membicarakanmu...
tentang apa saja....
tentang cintanya, cita, dan semuanya...
ia curahkan pada sosok sepertimu...

Jujur....aku iri dengan mereka bunda.....
aku hanya bisa melihat sebuah foto cantikmu yang selalu menemani malam-malamku...
dan aku sadar itulah tanda bahwa ALLAH sayang padaku...
dengan menempatkan kita yang tak bisa ditembus ruang dan waktu....

Aku kan coba berdiri dengan dewasa...
menatap tegak semua dekade tahun yang kan kulewati....

Aku rindu senyuman itu bunda...
aku rindu tangan bunda yang selalu buat aku tenang, ketika aku berduka....
Bundaaaaaa....
Bundaaaaaa....
Bundaaaaaa...
aku ingin melihat senyummu.....Hiks

Siluet Senja tuk Bidadari....

Andai waktu itu aku bisa menemanimu...
menghabiskan waktu 3 bulan bersamamu di kota itu....
andai aku tahu bahwa saat itulah terakhir kali aku bisa melihat senyuman nan teduhmu...
maka aku tak kan pernah meninggalkanmu sejenak...
bahkan untuk ke kota ini....

Andai saat engkau memintaku kembali ke kota ini tak kuturuti...
aku akan memelukmu lama...
aku percaya jauhh....sebelum itu...
bahwa waktumu hanya sebentar untuk bersamaku....
tapi engkau selalu bilang " baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
dan...aku hanya gadis kecil berusia belasan tahun yang tak tahu apa-apa...

dan saat ini...
aku ingin merajut cerita bersamamu...bidadariku...
bukan siapa-siapa...
karena mereka semua penuh kepalsuan....itu bisa kulihat dari mata mereka...
tidak ada yang tulus sepertimu....
atau aku yang belum menemukan mata teduh itu....
aku pernah melihat mata teduh itu, tapi aku tak berani menafsirkannya...
cukup aku dan bidadariku yang tahu milik siapa mata teduh itu...
sampai saatnya senjaku pemilik mata teduh itu yang kan datang....AMIN

Bidadariku...SEnyum takzim untukmu kuhaturkan...
semoga suatu saat aku kan bertemu kembali di taman-NYA itu....

Selasa, 2008 September 09

SENJA-Q

Tak akan ada yang tahu makna penciptaan sebuah senja dari-Nya
bahkan oleh sang senja sendiri…
Tak ada esensi yang lebih dewasa dari sebuah senja yang teristimewa
kecuali ketika dia menemukan kembali jati dirinya yang selama beberapa bulan ini menghilang
entah…ditelan waktu ataukah sang senja sendiri yang menyembunyikan keberadaannya…

yang jelas, ketika sang senja mencoba kembali hadir, dalam hitungan waktu…
dia ingin merubah segalanya menjadi lebih baik bahkan menjadi SEMPURNA di mata-Nya
meskipun sang senja menyadari bahwa tiada kesempurnaan yang abadi melainkan kesempurnaan itu sendiri…

senja hanya ingin membahagiakan orang-orang yang dahulu, sekarang dan masa depan selalu menantikan kedatangannya, walupun untuk itu sang senja harus mencoba menahan sebuah tetesan air mata akibat kerapuhan yang pernah singgah dalam dirinya…karena bukankah kemarin, esok dan hari ini ialah sama saja???

berubah, kemudian menjadi Dewasa dan tegar menatap kehidupan ialah impian seorang senja…
meskipun untuk itu ia harus memulai semuanya dari awal, tanpa bantuan bintang, satelit, matahari bahkan meteor yang mejadi temannya…tapi ia percaya karena segala sesuatu pasti kan ada putarannya, dan ia harus mampu berjalan sendiri tanpa siapapun!!!

Tak ada kata egois bila sang senja berkehendak, tapi yang terpenting biarkanlah ia tetap menghiasi langit dengan bantuan cahaya-Nya…

Butuh pemikiran yang mendalam untuk memahaminya dengan baik!!!

Minggu, 2008 September 07

Perempuan sunyi....

Dia selalu terjaga dari setiap malam...
karena dia yakin, malamlah yang kan menjaganya....
membuatnya berada diantara seribu dilema...

Dia...perempuan sunyi...
yang dalam setiap mata teduhnya ada kerinduan...
bukan sebuah jelaga kesombongan...
tapi sebuah kebersahajaan...
dan berjuta kesederhanaan...

Dia..perempuan sunyi....
yang kala malam meninggalkannya, dia bahkan terkesima...
akankah dia dapat menjumpai malam yang sebenarnya???
hanya episode kegelisahan yang ada di dalamnya...

perempuan sunyi itu tak pernah peduli....
ia akan tetap melangkah...
hanya ada satu pelangi dalam jiwanya...
dan ia ingin menggapai pelangi itu....

AMIN....

Senin, 2008 Juli 07

C-I-N-T-A

Surakarta, 2001

Aku kembali terpekur dalam ketidakmengertian sikapnya selama 3 bulan ini...Ada apa gerangan dengan dia? mencoba mengais sepi tapi tetap tak berkutik...mencoba tertawa dalam segala keperihan ketika bertemu dengannya dalam suatu sore yang indah...tapi NIHIL!!! Dia menyuruhku pergi MENJAUH...
MENJAUH??? Benarkah itu yang dia perbuat untukku?

Sekali lagi aku kembali mencoba mencari tanya di balik mata teduhnya...Tapi Sia-sia...
dia tetap diam seribu bahasa....Ada apa denganmu? Membuatku bingung...
Sekali lagi membuatku bingung....

Masih kuingat ketika dia mencoba mengajakku berjalan melalui hidup. Aku hanya mengangguk lemah...Masih ada keengganan terpatri di sana....
Bodoh!!! bUkankah itu terakhir kalinya aku dapat melihat wajah teduhnya....

" Mengapa harus menyesal? " Tutur Ayah saat itu.
" Siapa yang menyesal, Ayah? " Gumamku perlahan...
" Nabila, hanya mencoba untuk tegar" jawabku melanjutkan...
" Bener...? " tanya Ayah lagi...
Aku terdiam, ataukah tergugu dalam isak tangis...ENTAHLAH
Sesuatu itu telah hilang dari diriku....Yah, separuh cinta itu telah pergi dari kehidupanku...

" Apa yang bisa aku lakukan, untuk membuatnya bisa tersenyum? tanyaku dalam hati..
Setiap hari..bahkan setiap hari aku ingin menemuinya, mengajak bicara walaupun itu akan sia-sia...Dia hanya bicara seperlunya, dan setelah itu Menyuruhku Pergi...
SEkali lagi menyuruhku PERGI....


Mojokerto, Akhir November 2008
Aku lelah..aku tidak bisa menyelesaikan " Persembahan Terbaik" untuk dia!!! itu kata hatiku....
Aku menangis, terpuruk!!!! dan semuanya DIAM tak berkutik....
Aku mencoba mencari sinar terang di malam yang dingin itu...
tapi SUNGGUH!!!! Tak kudapatkan...
Ada apa dengan Hatiku, Robbi???
Persembahan Terbaik itu, harus ada dan benar-benar ADA!!!
Itu JAnjiku!!! Harus...dan harus....

Mojokerto, 4 Desember 1986
NABILA....nabila harus berjalan sendiri....kamu tak boleh menyerah!!!! Demikian nuraniku bertanya...
Aku Lelah berada dalam kebingungan dan ketidak mengertian tentang hatinya yang dulu...
Nabila merayakan ULTAH itu seorang diri....Bagus!!! Dia ingin sendiri merayakannya...
Dia hanya ingin orang itu yang datang, tapi sia-sia....mahal sekali nyawa itu!!!
Aku hanya ingin merayakan ultah itu berdua dengannya!!! tapi tak akan pernah BISA...


Surabaya, 18 Mei 2008
Mengapa pengumpulannya secepat ini? yup..semua harus serba cepat namun harus dapat gapai yang maksimal untuk dia...Harus...dan harus...
Mata ini semakin sembab oleh air mata. Mencoba melupakan kehangatan malam yang hanya De Javu baginya...
Tidak..dia ingin berhasil untuk seseorang itu..YAh... Untuk dia, sebagai penebus penyesalan itu....penyesalan 6 tahun yang lalu.

Surabaya, 2 Juni 2008
Aku terpekur, menatap kalender itu....Gemetar yang ada di sekujur tubuhku. Tidak!!!! bayangan itu seolah kembali berkelebat dalam benakku, saat dia mulai menenangkanku, dan mengucapkan janji bahwa Insya Allah aku akan berhasil tanpa ada dia....
Hebat!!! Kemana perginya Nabila yang hebat dan kuat! Dia hanya gadis berusia 21 tahun yang masih rapuh!!! Yup, tentu saja, karena dia seorang yang egois, tak pernah mau bercerita dengan orang lain tentang kegelisahan hatinya...Dia hanya menampakkan senyum palsunya du depan banyak orang...

Surabaya 4 Juni 2008
Kembali, Terulang Kembali kejadian itu!!! Kejadian yang sudah mencoba dilupakannya selama 6 tahun.. Yah hari itu, adalah perhelatan akbar seorang Nabila di depan 3 penguji Skripsinya...Berbagai pikiran, memenuhi ruang kepalanya...tak pernah mencoba, menceritakan keluh kesahnya...
Nabila yang HEBAT, bukan!!!
Sukses!!! Perhelatan akbar itu sukses, Perfect!!!

Surakarta, 6 Juni 2008
Kali ini, aku terpekur kembali di tempat itu..Tempat yang selalu membuatku menangis dalam sesak...
Dia...dia yang namanya kusebut dalam mimpiku, dalam kenanganku, dan dalam cintaku...Dialah BIDADARIKU...tempat aku menautkan cintaku ketiga setelah ALLAH dan BAGINDA RASULULLAH....
Nabila bukan gadis cengeng!!! Dia gadis yang kuat!!! tapi terkadang sebuah batu karang mampu pecah, oleh kedahsyatan amarah ombak...Maka tak mungkin, jika sekerat hati tidak pernah retak ataupun patah bukan?
dan saat temaram senja ini, kudapatkan penjelasan dari Ayah...
" Kamu tau, Nabila mengapa dia menyuruhmu menjauhinya kala itu? " tanya Ayah Lembut
" tidak pernah tahu, Ayah" ucapku jujur.
" Hanya Satu jawabnya..." terang Ayah...
" Bolehkah Nabila tahu? " seruku merajuk
" Bidadari hanya ingin, kamu bisa melupakan dia secepatnya setelah kepergiannya...itu sebabnya dia membuatmu benci kepadanya" urai Ayah panjang lebar.
" Bidadari...bagaimana mungkin, dia tega menyuruh aku membencinya?"
" Kamu tau kenapa?" tanya Ayah lagi.
" kenapa, Ayah? apakah dia membenciku? " sambungku pelan
" Bukan..bukan karena dia membencimu, akan tetapi karena Bidadari benar-benar Mencintaimu, melebihi kakak-kakakmu yang lain...Percaya sama Ayah".

dan saat itu, aku kembali tersenyum dalam kebanggaan dan ketawadhuan sebagai buah hatinya....Dan PERSEMBAHAN TERBAIK itulah jawabannya untuk BIDADARIKU...
aku telah menyelesaikannya dengan Istimewa Untukmu....

Aku ingin kau melihatnya...Tapi tidak apa-apa, jika engkau belum ada waktu...Karena aku yakin, suatu saat kita akan bertemu di Taman Surga-Nya...Entah kapan...
Tunggu aku...Bidadariku...

Kamis, 2008 April 17

LOMBA MENULIS CERITA PENDEK
PROGRAM REGULER 2008
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
(Gedung E. Lantai 14 jalan Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta 10270)



1. MOTTO
Menyelami sastra, memperluas cakrawala bahasa, memperkokoh budaya bangsa

2. TEMA CERPEN
Cinta, Kemanusiaan, Kebangsaan, Lingkungan, Perdamaian, Bencana Alam, Kearifan lokal.

3. PERSYARATAN PESERTA :
- Peserta adalah guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA/SMK/MA dibuktikan dengan surat keterangan dari kepala sekolah
- Belum pernah lolos dalam25 Besar LMCP sebelumnya (peserta yang pernah lolos dalam 25 besar LMCP sebelumnya akan diikutsertakan dalam program khusus)

4. PERSYARATAN CERPEN
- Cerpen adalah karya asli dan belumpernah dipublikasikan di media apapun
- Panjang cerpen 5-20 halaman kuarto, 1,5 spasi (1500-6000 kata)
- Peserta boleh mengirim lebih dari 1 naskah, dengan catatan hanya 1 naskah terbaik yang akan dipertimbangkan menjadi pemenang
- Di halaman akhir tulisan (halaman terpisah) ditulis identitas dan alamat lengkap penulis serta no. Telepon/ HP yang dapat dihubungi.

5. PENGIRIMAN CERPEN
- Cerpen ditulis sebanyak rangkap 3, dimasukkan dalam amplop. Pada bagian luar ditulis ” LMCP PROGRAM REGULER 2008” diantar langsung/ dikirim paling lambat tanggal 30 Mei 2008 (stempel pos)
-Cerpen dikirim ke alamat:
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEGIATAN PEMBINAAN PENDIDIKAN ESTETIKA
PADA SUBBAG RT. BAGIAN UMUM
SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL, GEDUNG E LANTAI 14
JALAN JENDERAL SUDIRMAN, SENAYAN. JAKARTA 10270

6. PENGUMUMAN PEMENANG
- Panitia akan memilih 20 peserta terbaik untuk mengikuti seleksi final di Jakarta
- Selama mengikuti seleksi final di jakarta, panitia menyediakan biaya transportasi dan akomodasi.
- Pemenang LMCP 2008, akan diumumkan pada tanggal 16 Agustus 2008

7. HADIAH
- Panitia menyediakan hadiah berupa uang tunai sebagai berikut.
Pemenang 1 : Rp 6.500.000
Pemenang 2 : Rp 6.000.000
Pemenang 3 : Rp 5.500.000
Pemenang 4 : Rp 5.000.000
Pemenang 5 : Rp 4.500.000
Pemenang 6 s.d 10 : Rp 4.000.000
Pemenang 11 s.d 15 : Rp 3.500.000
Pemenang 16 s.d 20 : Rp 3.000.000
- Pajak hadiah sebesar 15 % (PPH Psl 21 ) ditanggung pemenang
- Kepada semua peserta akan diberikan piagam penghargaan

8. KETENTUAN PANITIA
- DEPDIKNAS berhak menerbitkan dan menggandakan naskah yang terpilih
Keputusan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

9. LAIN-LAIN
Untuk informasi lebih lanjut hubungi panitia penyelenggara, kegiatan Pembinaan Pendidikan Estetika, Jakarta Sub Bag RT. Bagian Umum Set Ditjen Mandikdasmen Telp (021) 5725616, atau 5725061 (pesawat 6402)
Email : estetika.mandikdasmen@yahoo.co.id
Siluet Senja untuk Cinta



Langit itu mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasai oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung ataupun hujan sekalipun. “tidak….tidak akan terjadi hujan” bisikku lirih,diantara seribu kegundahan yang mulai menembus labirin dalam persendian dan relung hati, mencoba tuk mengeja bahakan berkata dalam kebingungan yang besar “Bunda akan pulang Nak, tunggu dengan sabar ya!” itulah kalimat bunda yang kudengar di telepon, waktu aku menanyakan kapan kedatangannya. Aku sudah tidak sabar menantinya. Bunda berjanji akan pulang membawakan hadiah boneka yang bagus…yang pasti juga cantik seperti diriku, katanya.


Kutatap lagi langit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
“ Emh…Bunda masak apa nih? Baunya sedap banget!!! Itu kan cuni-cumi goreng kesukaan Cinta, benar kan Bunda? Tanyaku waktu itu.
” Iya...Cinta, Bunda lagi masak makanan kesukaanmu” ucap Bunda lembut.
” Juga kesukaan papa kan...Bunda” ucapku riang.
Namun sepi, karena selanjutnya yang kudengar hanya bunyi penggorengan yang beradu dengan dentingan pisau.
” Pasti Bunda lagi sibuk banget” pikirku. Aku segera beranjak pergi meninggalkannya. Yah...mungkin ke taman bunga di belakang rumah akan menyejukkan dan membuat pikiranku menjadi jernih kembali.
*****


Sudah ketiga kalinya bunda selalu menghindar, ketika kutanyakan perhal tentang papa. Sosok yang seharusnya menemaniku pada masa-masa sulit seperti ini. Masa yang benar-benar aku ingin merasakan dukungan dari keluarga, yang setidaknya bisa membebaskanku dari segala kejenuhan hidup, dan perlahan dapat memberi warna tersendiri bagi jiwa, meskipun aku tidak pernah dapat merasakan warna sesungguhnya, mungkin selamanya.

Papa...sosok yang begitu kuyakini dapat mendukung sepenuhnya, membuat hidupku kembali seperti senja yang menawarkan beribu keindahan dalam tiap hati manusia ketika bersamaku, menebarkan aroma keharuman dalam hati yang telah lama rapuh untuk beberapa saat, dan kini untuk waktu yang lama, bahkan sampai akhir hayat.

Papa...sosok yang akhirnya kuketahui nahwa ia telah meninggalkanku dan bunda, ketika vonis dokter yang mengatakan seperti itu. Vonis yang seharusnya tudak ditimpakan untukku, karena aku tidak pernah tahu tentang jalan hidup yang akhirnya seperti ini, membuat keluarga yang kucintai harus berpisah karena kehadiran seorang Cinta Restu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama yang cantik.

aang juga akan memberi berkah bagi masyarakat sekitbagi diri dan keluarRestu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama Nama yang diharapkan dapat membawa kebahagiaan dan cinta bagi diri dan keluarganya. Vonis itu...yang seharusnya bukan untukku!!! Tapi aku sadari di usia yang ke-19 tahun ini, bahwa ternyata aku hanyalah sebuah lakon kehidupan yang mementaskan sebuah peran di atas panggung sandiwara yang penuh dengan segala liku-iku kemunafikannya.

Aku tak punya pilihan untuk meminta peran yang lebih baik, karena memang aku hanyalah sebuah lakon yang pasrah pada keputusan sang Sutradara. Andai aku dapat meminta peran yang lebih baik daripada hidupku sekarang ini, pasti aku akan meminta pada sang Sutradara untuk mengembalikan keluargaku dan mematikan saja peranku. Yah...mungkin jika diberi pilihan, maka pilihan yang terbaik yang kan kuambil ialah aku tidak ingin dilahhirkan ke dunia ini, dunia yang menurutku penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan juga kemunafikan.
*****

Masih coba kutatap lagi kangit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
” Bunda...aku ingin bertanya tentang satu hal” akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur pada bibirku, setelah 19 tahun aku memendam perasaan ini. Pertanyaan yang seharusnya tak kuucapkan dari bibir bodoh ini, karena aku yakin akan membuat hati bunda terluka. Tetapi, sungguh, kali ini aku tak peduli, aku ingin mengetahui keberadaan tentang papa.
” Yah...bertanyalah Cinta..”Ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutku
Yah...Bunda selalu begitu, beliau ingin meyakinkanku bahwa dia akan memberikan jawaban yang bagus dan tentu saja akan membuatku selalu puas. Bunda memang istimewa bagiku!!! Emh..sejak kapan Papa pergi meninggalkan rumah ini, bunda? Dengan penuh keraguan, dan entah kekuatan besar apakah yang menyusup dalam jiwa, sehingga membuatku berani bertanya tentang hal yang sebelumnya aku telah berjanji untuk tidak akan pernah membuka kenangan lama itu. Tapi...aku butuh jawaban itu, sekarang!!!

Sebelum semuanya terlambat. Tapi apakah masih belum dapat dikatakan terlambat bila aku telah menunggunya selama 19 tahun??? Mengapa engkau tanyakan hal seperti itu lagi, cinta? Tanya bunda kembali, masih dengan suara yang lembut. Tapi perlahan, aku mendengar perubahan suaranya yang mulai berubah. Menangiskah oa, marahkah ia padaku?
” Aku hanya ingin mengetahuinya, bunda” jawabku lirih sambil mencoba meraih bahu bunda,aku ingin memeluknya.
” Cinta...apakah kehadiran Bunda bagimu belum cukup untuk menggantikan seorang papa? Gumam bunda perlahan. Aku merasakan ada goresan kesedihan yang ada di wajahnya. Wajah Bunda yang mungkin sangat cantik, melebihi kecantikan yang ada pada diriku, seperti yang yang dikatakan orang-orang padaku. Itulah pertanyaan terakhir yang kulontarkan pada bunda. Biarlah aku akan berfikir tentang sosok papa yang aku rasakan dan gambar dalam imajinasiku saat ini, biarlah aku tidak pernah mengenal tentang siapa nama dan wajahku sesungguhnya, karena aku tidak memerlukannya. Toh...bagiku bunda sudah cukup.

Aku tidak mau menyakiti hati bunda lagi dan menorehkan kembali luka di hati sucinya hanya untuk sebuah pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang sudah coba untuk kukuburkan selama 19 tahun ini. Maafkan Cinta Bunda, karena bagiku kau sudah cukup bahkan lebih daripada sekedar menggantikan tempat papa di sampingku.
*****

Masih coba kutatap lagi langit yang mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
Tapi...ternyata hari ini aku salah, hari ini mungkin langit tidak cerah, langit tidak berwarna biru bersih dan langit tidak dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya.

” Itu yang namanya siluet senja, cinta” ucap Bunda saat membawaku ke sebuah pantai yang kata beliau sangat indah, bila aku dapat melihatnya, tentu saja melihat dengan bayangan hatiku.
” ada berbagai warna berpendar di sana, diantara siluet senja. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, Cinta. Senja tak pernah mengeluh dalam memberikan penerangan bagi umat di dunia. Ia harus jadi lentera dan pelita yang indah bagi penduduk bumi, walaupun dengan itu, ia harus rela berkorban untuk terus menerus berganti warna. Senja tak perlu menyadari, apa makna pergantian warna baginya, karena ia tak cukup banyak waktu untuk melihat keindahan yang ada pada dirinya sendiri. Ia sudah cukup bersyukur dengan cahayanya yang sangat cantik menurut banyak orang, karena ia takkan pernah melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar yang menurut dia akan berkata jujjur tentang kecantikan yang selama ini dibicarakan orang tentang dirinya.
Yang perlu ia tahu ialah bahwa orang-orang di sekitarnya sangat menantikan kedatangan sang senja. Ia tidak perlu melihat dengan matanya, karena ia punya mata yang lebih peka dari sepasang mata yang menurut senja penuh kemunafikan. Mata itu adalah mata hati. Sekali lagi ia tidak perlu melihat dengan sepasang matanya tentang kekaguman orang-orang di sekitar akan cahayanya yang indah, karena itu dengarlah Cinta, sesunguhnya Tuhan lebih tahu akan hati seorang senja dengan mengambil sepasang matanya, agar ia dapat merasakan tentang kepuasan jiwa akan sinar yang dipancarkan oleh sang pencipta.

Tuhan tidak pernah tidur, Cinta....karena ia telah berkenan mengganti mata senja dengan sebuah mata Tuhan. Mata hati yang lebih suci, yang tidak akan pernah berbohong, tentang suatu hal dalam kehidupan” ucap bunda panjang lebar di akhir pembicaraanya.
*****

” Maafkan Aku Bunda!!!” ucapku pelan, tak dapat kupendam segala haru biru yang menghimpit persendianku, saat kucoba berdiri dari tanah merah basah yang sedari tadi terdiam menyemayamkan tubuh bidadariku, bundaku untuk yang terakhir kalinya. Masih kupeluk erat boneka yang dulu pernah diberikan bunda di usia19 tahun yang lalu...

Selamat jalan Bunda, semoga kau bahagia di sisi-Nya...Amin