Nyanyian Sunyi Khidir
Oleh: Oktavia Catur Handini
Oleh: Oktavia Catur Handini
Suara gemuruh ombak memecah dengan keras
Menghantam tiap-tiap batu karang yang menjulang dengan kokoh
Memunculkan riak-riak kesunyian, kemarahan, dan kesedihan
Perlahan...melemparkan sepotong cahaya yang penuh
Dengan kedalaman makna
Berteriak...
Bergema...
Lalu membisu...
Menghantam tiap-tiap batu karang yang menjulang dengan kokoh
Memunculkan riak-riak kesunyian, kemarahan, dan kesedihan
Perlahan...melemparkan sepotong cahaya yang penuh
Dengan kedalaman makna
Berteriak...
Bergema...
Lalu membisu...
Temaram Subuh...
Kulihat sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu yang hampir ronoh, kira-kira tinggal menunggu hitungan bulan. Tampak kayu-kayu yang mulai terkelupas kulitnya satu demi satu. Kucoba untuk memasuki gubuk yang hampir roboh itu. Emh...aku menghela nafas panjang. Ketika kusaksikan seorang wanita tua dengan kerpus hitam di kepalanya. Wajahnya yang begitu tirus, dan mata yang cekung dengan kontong mata agak berwarna hitam, sedang menangis menghadap anak gadis kecilnya, yang kira-kira berumur 10 tahun sedang tidur terlelap, disebuah tikar lusuh di atas lantai tanah gubuk. Kulihat berkali-kali wanita tua itu mengusapair matanya dengan kain jarik tua yang digunakan sebagai selimut anaknya.
” Narti...ayo bangun Nak, sudah hampir subuh” ucap wanita tua itu lembut, sambil mencoba menggoyangkan tubuh gadis mungil semata wayangnya.
” Ibu...Narti lapar, perut Narti sakit sekali, Narti nggak kuat bangun”.rajuk Narti sambil merintih kesakitan, memegangi perutnya.
” Ibu...sudahkah Ibu mendapatkan pekerjaan untuk esok hari? Tanya Narti.
” Mengapa kau selalu menanyakan itu, Nak? Jawab wanita tua yang dipanggil ibu itu.
” Aku hanya ingin, besok siang dapat makan setengah piring nasi putih Ibu, hanya setengah piring” ujar Narti memelas.
” aku tidak mau makan dari sisa-sisa nasi yang ada di warung itu lagi” lanjut Narti.
” ada apa dengan sisa-sisa makanan itu, Nak? Bukankah itu biasanya yang menjadi makanan wajib kita? Tanya wanita tua itu dengan penuh kelembutan.
” Ibu...kau tahu, setelah aku makan nasi bekas warung itu, perutku sakit sekali. Sudah enam kali aku keluar-masuk kakus di belakang gubuk kita, dan lihatlah Ibu, sudah tiga kali bekas muntahan yang keluar dari mulutku. Belum kering muntahan yang satu, pasti akan ada muntahan lagi” Narti menjelasakan dengan panjang lebar,ada segumpal kesedihan dan juga setitik air mata yang mengalir di kedua belah pipinya.
” Narti sayang...tentu saja Ibu sudah mendapatkan pekerjaan yang baik” jawab wanita tua itu akhirnya.
Pekerjaan? Pekerjaan apa yang akan aku dapatkan hari esok? Bukankah aku sudah mencoba untuk mendapatkan pekerjaan itu, walaupun pada akhirnya cercaan dan makian yang aku dapatkan untuk wanita setua aku ini.
Tapi, tenanglah anakku, Ibu akan kembali berusaha.
*****
Kuteteskan air mata keagunganku, yang sedari tadi sempat tergenang di kelopak mataku, ini sudah keberapa kali, aku menyaksikan kejadian miris seperti ini?Kucoba untuk mengingat dan menghitungnya,Satu...dua....tiga
Ah...ini sudah yang ketiga puluh, bukan ini sudah enam puluh. Tapi apa ini sudah yang ketiga ratus enam puluh lima hari, sejak mereka tinggal di gubuk tua itu dan sejak kepergian almarhum suami dan ayah gadis kecil itu?
Aku kembali mengepakkan sayap putih keagunganku...
Aku adalah sebuah penderitaan, aku lahir karena penderitaan dan aku ” fana” juga karena penderitaan. Jiwa yang lahir dan tumbuh dalam dentingan nafas yang hakiki, yang bisa menyatukan keabadianku dengan Tuhan? Tapi...apa aku ini makhluk Tuhan? Atau aku sendiri adalah Tuhan sendiri? Emh...tidak ada definisi yang jelas siap Tuhan itu dan apa makhluk Tuhan itu? Tapi...bukankah ketika sifat Maha Agung,Maha Kasih, Maha Penyayang Tuhan ada dalam jiwa seorang makhluk, bukankah itu berarti sama artinya dengan Tuhan ada dan sedang menjelma dalam diri makhluk Tuhan itu?
Aku adalah Khidir
Aku adalah sang pembawa penderitan, yang di dalam setiap kehidupan yang aku jumpai, aku akan kembali melihat tetesan air mata, tetesan darah, pengorbanan dan kesedihan yang ”menjamur” di mana-mana. Bahkan sebuah keputusasaan yang teramat hina sekalipun? Adakah kau dengar wahai makhlu Tuhan yang punya telinga? Dan apakah matamu masih dapat ” melek”tuk melihat semua ini? Dan satu lagi, apakah hatimu masih dapat merasakan ” aura” yang indah dalam tiap jiwa yang tercipta dari sebuah tangan-Nya yang mulia?
Apa itu yang dinamakan sebuah kemuliaan, jika hanya untuk mendengar, melihat dan merasa engkau masih jauh dari kata mampu?kemana telinga,mata, dan hatimu yang sudah diberikan sang Khaliq untukmu? Apakah pemberia itu, hanya sekedar kepalsuan saja? Kalau hanya kepalsuan saja, lalu apa arti sebauh kebenaran dan keadilan? Kebenaran dan keadilan yang diagungkan Tuhanmu lewat surat cinta-Nya yang termaktub dalam 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat?
Sekali lagi, aku mohon, berteriaklah dan jawablah dengan keras, wahai yang masih memiliki telinga, mata,dan hati yangmasih murni dan suci? Jawablah!!!
Aku adalah Sang Khidir...
Aku adalah sang pembawa penderitaan yang sejati, di dalam setiap kehidupan yang aku jumpai, Aku akan kembali melihat tetesan air mata, tetesan darah, pengorbanan dan kesedihan yang” menjamur” di mana-mana. Bahkan sebuah keputusasaan yang teramat hina.
Kukepakkan sayap putihku, dan perlahan aku terbang...
*****
Kala Senja terbenam...” Ibu...apa yang engkau dapatkan hari ini? Tanya gadis itu kembali.
” Aku sudah menunggumu sepanjang hari ini” Lanjut gadis itu.
” Tenang Narti, Ibu sudah membawakan sesuatu untukmu” jawab wanita tua itu sambil menunjukkan sebuah bungkusan tas plastik hitam.
” Alhamdulillah...Ibu akhirnya mendapatkan sesuatu untukku, masaklah untukku Ibu” pinta gadis itu kembali.
” Tentu saja, anakku” ujar wanita tua itu masih tetap dengan penuh kelembutan.
” Aku akan membantumu untuk memasak” seru gadis itu riang sambil mencoba bangun dari tikar lusuhnya. Tapi...kasihan sekali ia terjatuh, rupanya lapar yang hebat telah berhasil menggerogoti tubuh gadis kecil itu.
” Narti...kamu disini saja. Ibu akan segera memasakkan untukmu” kata wanita tua itu sambil membantu Narti untuk kembali tidur dalam tikar lusuhnya.
Tuhan...maafkan aku
Narti...maafkan Ibu
Kulihat kembali wanita tua itu dengan bungkusan tas plastik hitamnya, menuju dapur. Kulihat dia hanya terduduk lesu, di kursi kayu di dapur itu. Tak ada yang dilakukannya, selain menangis. Tangisan itu sangat menyayathatiku, juga seakan mengetuk hati para penduduk langit yang mendengarnya...
Tapi...tunggu dulu...
Dengarlah tangisan itu...
Tangisan itu membentuk suatu ritme dalam sebuah lagu, not-notnya sangat teratur, nada temponya juga sangat bagus, mengingatkan aku pada sebuah nyanyian yang biasa digemakan oleh kekasih Tuhan di surga dalam setiap jam, menit, bahkan detik.
Sayup-sayup aku masih mendengar nyanyian yang begitu merdu, yang baru kali ini kujumpai di alam dunia ini, yang dinyanyikan dengan bagus oleh wanita tua itu. Siapa gerangan wanita tua itu? Jelmaan dari jibril ataukah jelmaan dari Tuhan itu sendiri? Ataukah ia adalah teman karibku sendiri, yang mungkin aku sudah lupa namanya? Sahabat karib Khidir...
Belum selesai aku memikirkan semua ini, kulihat sebuah gubuk wanita tua itu memacarkan cahaya putih yang begitu terang, seakan menyilaukan mata bagi yang memandangmya. Cahaya putih itu kemudian berubah menjadi sebuah permadani putih yang panjang, yang terhamparkan ke langut. Yah...ke langit
Aku masih dapat melihat semua itu, wanita tua dengan kerpus hitam di kepalanya dan seorang gadis berusia 10 tahun meniti permadani putih itu menuju langit, untuk menghadiri undangan dari sang Raja Langit, penciptaku...
Aku tetap berdiri terpaku saat kulihat pemandangan menakjubkan ini, yang pertama kali yangmenurutku ada di dunia ini, oleh seprang Khidir, sebelum aku permadani putih itu, aku sempat melihat bungkusan tas plastik hitam itu...
Hanya sebuah pasir dan kerikil yang sudah cukup hitam...
Aku menangis terharu, menyaksikan semua ini...
Temukan AKU dalam setiap keabadian yang hadir di setiap helaan nafasmu...
