Senin, 31 Maret 2008

Nyanyian Sunyi Khidir

Oleh: Oktavia Catur Handini


Suara gemuruh ombak memecah dengan keras
Menghantam tiap-tiap batu karang yang menjulang dengan kokoh
Memunculkan riak-riak kesunyian, kemarahan, dan kesedihan
Perlahan...melemparkan sepotong cahaya yang penuh
Dengan kedalaman makna
Berteriak...
Bergema...
Lalu membisu...


Temaram Subuh...

Kulihat sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu yang hampir ronoh, kira-kira tinggal menunggu hitungan bulan. Tampak kayu-kayu yang mulai terkelupas kulitnya satu demi satu. Kucoba untuk memasuki gubuk yang hampir roboh itu. Emh...aku menghela nafas panjang. Ketika kusaksikan seorang wanita tua dengan kerpus hitam di kepalanya. Wajahnya yang begitu tirus, dan mata yang cekung dengan kontong mata agak berwarna hitam, sedang menangis menghadap anak gadis kecilnya, yang kira-kira berumur 10 tahun sedang tidur terlelap, disebuah tikar lusuh di atas lantai tanah gubuk. Kulihat berkali-kali wanita tua itu mengusapair matanya dengan kain jarik tua yang digunakan sebagai selimut anaknya.

” Narti...ayo bangun Nak, sudah hampir subuh” ucap wanita tua itu lembut, sambil mencoba menggoyangkan tubuh gadis mungil semata wayangnya.
” Ibu...Narti lapar, perut Narti sakit sekali, Narti nggak kuat bangun”.rajuk Narti sambil merintih kesakitan, memegangi perutnya.
” Ibu...sudahkah Ibu mendapatkan pekerjaan untuk esok hari? Tanya Narti.
” Mengapa kau selalu menanyakan itu, Nak? Jawab wanita tua yang dipanggil ibu itu.
” Aku hanya ingin, besok siang dapat makan setengah piring nasi putih Ibu, hanya setengah piring” ujar Narti memelas.
” aku tidak mau makan dari sisa-sisa nasi yang ada di warung itu lagi” lanjut Narti.
” ada apa dengan sisa-sisa makanan itu, Nak? Bukankah itu biasanya yang menjadi makanan wajib kita? Tanya wanita tua itu dengan penuh kelembutan.
” Ibu...kau tahu, setelah aku makan nasi bekas warung itu, perutku sakit sekali. Sudah enam kali aku keluar-masuk kakus di belakang gubuk kita, dan lihatlah Ibu, sudah tiga kali bekas muntahan yang keluar dari mulutku. Belum kering muntahan yang satu, pasti akan ada muntahan lagi” Narti menjelasakan dengan panjang lebar,ada segumpal kesedihan dan juga setitik air mata yang mengalir di kedua belah pipinya.
” Narti sayang...tentu saja Ibu sudah mendapatkan pekerjaan yang baik” jawab wanita tua itu akhirnya.
Pekerjaan? Pekerjaan apa yang akan aku dapatkan hari esok? Bukankah aku sudah mencoba untuk mendapatkan pekerjaan itu, walaupun pada akhirnya cercaan dan makian yang aku dapatkan untuk wanita setua aku ini.
Tapi, tenanglah anakku, Ibu akan kembali berusaha.
*****

Kuteteskan air mata keagunganku, yang sedari tadi sempat tergenang di kelopak mataku, ini sudah keberapa kali, aku menyaksikan kejadian miris seperti ini?
Kucoba untuk mengingat dan menghitungnya,Satu...dua....tiga
Ah...ini sudah yang ketiga puluh, bukan ini sudah enam puluh. Tapi apa ini sudah yang ketiga ratus enam puluh lima hari, sejak mereka tinggal di gubuk tua itu dan sejak kepergian almarhum suami dan ayah gadis kecil itu?

Aku kembali mengepakkan sayap putih keagunganku...
Aku adalah sebuah penderitaan, aku lahir karena penderitaan dan aku ” fana” juga karena penderitaan. Jiwa yang lahir dan tumbuh dalam dentingan nafas yang hakiki, yang bisa menyatukan keabadianku dengan Tuhan? Tapi...apa aku ini makhluk Tuhan? Atau aku sendiri adalah Tuhan sendiri? Emh...tidak ada definisi yang jelas siap Tuhan itu dan apa makhluk Tuhan itu? Tapi...bukankah ketika sifat Maha Agung,Maha Kasih, Maha Penyayang Tuhan ada dalam jiwa seorang makhluk, bukankah itu berarti sama artinya dengan Tuhan ada dan sedang menjelma dalam diri makhluk Tuhan itu?

Aku adalah Khidir
Aku adalah sang pembawa penderitan, yang di dalam setiap kehidupan yang aku jumpai, aku akan kembali melihat tetesan air mata, tetesan darah, pengorbanan dan kesedihan yang ”menjamur” di mana-mana. Bahkan sebuah keputusasaan yang teramat hina sekalipun? Adakah kau dengar wahai makhlu Tuhan yang punya telinga? Dan apakah matamu masih dapat ” melek”tuk melihat semua ini? Dan satu lagi, apakah hatimu masih dapat merasakan ” aura” yang indah dalam tiap jiwa yang tercipta dari sebuah tangan-Nya yang mulia?
Apa itu yang dinamakan sebuah kemuliaan, jika hanya untuk mendengar, melihat dan merasa engkau masih jauh dari kata mampu?kemana telinga,mata, dan hatimu yang sudah diberikan sang Khaliq untukmu? Apakah pemberia itu, hanya sekedar kepalsuan saja? Kalau hanya kepalsuan saja, lalu apa arti sebauh kebenaran dan keadilan? Kebenaran dan keadilan yang diagungkan Tuhanmu lewat surat cinta-Nya yang termaktub dalam 30 juz, 114 surat dan 6666 ayat?
Sekali lagi, aku mohon, berteriaklah dan jawablah dengan keras, wahai yang masih memiliki telinga, mata,dan hati yangmasih murni dan suci? Jawablah!!!

Aku adalah Sang Khidir...
Aku adalah sang pembawa penderitaan yang sejati, di dalam setiap kehidupan yang aku jumpai, Aku akan kembali melihat tetesan air mata, tetesan darah, pengorbanan dan kesedihan yang” menjamur” di mana-mana. Bahkan sebuah keputusasaan yang teramat hina.
Kukepakkan sayap putihku, dan perlahan aku terbang...
*****

Kala Senja terbenam...
” Ibu...apa yang engkau dapatkan hari ini? Tanya gadis itu kembali.
” Aku sudah menunggumu sepanjang hari ini” Lanjut gadis itu.
” Tenang Narti, Ibu sudah membawakan sesuatu untukmu” jawab wanita tua itu sambil menunjukkan sebuah bungkusan tas plastik hitam.
” Alhamdulillah...Ibu akhirnya mendapatkan sesuatu untukku, masaklah untukku Ibu” pinta gadis itu kembali.
” Tentu saja, anakku” ujar wanita tua itu masih tetap dengan penuh kelembutan.
” Aku akan membantumu untuk memasak” seru gadis itu riang sambil mencoba bangun dari tikar lusuhnya. Tapi...kasihan sekali ia terjatuh, rupanya lapar yang hebat telah berhasil menggerogoti tubuh gadis kecil itu.
” Narti...kamu disini saja. Ibu akan segera memasakkan untukmu” kata wanita tua itu sambil membantu Narti untuk kembali tidur dalam tikar lusuhnya.
Tuhan...maafkan aku
Narti...maafkan Ibu
Kulihat kembali wanita tua itu dengan bungkusan tas plastik hitamnya, menuju dapur. Kulihat dia hanya terduduk lesu, di kursi kayu di dapur itu. Tak ada yang dilakukannya, selain menangis. Tangisan itu sangat menyayathatiku, juga seakan mengetuk hati para penduduk langit yang mendengarnya...
Tapi...tunggu dulu...
Dengarlah tangisan itu...
Tangisan itu membentuk suatu ritme dalam sebuah lagu, not-notnya sangat teratur, nada temponya juga sangat bagus, mengingatkan aku pada sebuah nyanyian yang biasa digemakan oleh kekasih Tuhan di surga dalam setiap jam, menit, bahkan detik.
Sayup-sayup aku masih mendengar nyanyian yang begitu merdu, yang baru kali ini kujumpai di alam dunia ini, yang dinyanyikan dengan bagus oleh wanita tua itu. Siapa gerangan wanita tua itu? Jelmaan dari jibril ataukah jelmaan dari Tuhan itu sendiri? Ataukah ia adalah teman karibku sendiri, yang mungkin aku sudah lupa namanya? Sahabat karib Khidir...
Belum selesai aku memikirkan semua ini, kulihat sebuah gubuk wanita tua itu memacarkan cahaya putih yang begitu terang, seakan menyilaukan mata bagi yang memandangmya. Cahaya putih itu kemudian berubah menjadi sebuah permadani putih yang panjang, yang terhamparkan ke langut. Yah...ke langit

Aku masih dapat melihat semua itu, wanita tua dengan kerpus hitam di kepalanya dan seorang gadis berusia 10 tahun meniti permadani putih itu menuju langit, untuk menghadiri undangan dari sang Raja Langit, penciptaku...

Aku tetap berdiri terpaku saat kulihat pemandangan menakjubkan ini, yang pertama kali yangmenurutku ada di dunia ini, oleh seprang Khidir, sebelum aku permadani putih itu, aku sempat melihat bungkusan tas plastik hitam itu...
Hanya sebuah pasir dan kerikil yang sudah cukup hitam...
Aku menangis terharu, menyaksikan semua ini...


Temukan AKU dalam setiap keabadian yang hadir di setiap helaan nafasmu...
Kamarku

Oleh: Oktavia Catur Handini

“ Emh…Hari Minggu yang cerah “ Gumamku perlahan, sambil sibuk pada kegiatan rutinku tiap hari Minggu.Yup…apalagi kalau bukan bersantai-santai ria di kamarku yang penuh dengan berbagai barang-barang yang tak layak dipandang..He..he alias jorok banget gitu deh, istilahnya…
“ Okta…ayo cepat bangun..ini udah jam 7 lho” Seru Ibu dari dapur yang mungkin sedang mempersiapkan menu favoritku. Yah…bener Cumi-cumi goreng.
“Oah…” kantukku perlahan datang seketika. Kuedarkan pandangan mataku keseluruh penjuru kamar ini. Memang tampak acak sekali kelihatannya, tak ada unsue estetika di dalamnya..Lihat saja, dinding-dindingnya tampak semrawut. Ada poster David Beckam yang tergantung di sebelah kiri atas fotoku bersama keluarga waktu aku berlibur di pantai Parangtritis, Yogyakarta, sebulan yang lalu. Kemudian di sebelah kirinya juga tergantung sertifikat hasil olimpiade Biologi 2 tahun yang lalu serta berbagai barang-barang yang tak berguna di sekitarnya.. ” wah...memang jorok banget nih kamar” Pikirku cepat.
Tak berhenti sampai disitu saja, kutatap lagi rak berukuran sedang yang ada tepat di samping kanan ranjang tempat tidurku. Tampak berbagai macam buku-buku pelajaran yang tak selalu tak sempat ditata, karena selalu terburu-buru untuk tidur, ketika selesai belajar.” Ups...dasar pemalas” Gumamku pada diri sendiri.
Eits...tapi walaupun pemalas, tapi aku pinter juga lho, buktinya juga ada 3 piala yang berjejer di rakku..masih kuingat jelas, piala kejuaraan lomba basket antar sekolah, olimpiade Biologi, serta Festival taeter se-Jawa Timur, he..he.
” Okta....denger Ibu tidak Sih...Ayo, cepat bangun to, nduk...” Ulang Ibu untuk kedua kalinya...
” I..iya bu...Okta udah bangun..” jawabku kerasa-keras.
” Kalau udah bangun, cepat ke sini sebentar, bantuin ibu goreng cumi-cumi kesukaanmu ya...” balas Ibu dari dapur.
Waduh...gawat!!! mana suka aku masak, apalagi pasti disuruh goreng...paling-paling ntar kena minyak goreng, trus...waduh...aku haris cari alasan nih..tapi apa ya???
” Okta...cepat kesini ya, Ibu lagi sibuk nih” panggil Ibu keras-keras.
”Bu...maaf, Aku lagi bersih-bersih kamar” jawabku tak kalah keras..Ups...akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulutku...istilahnya White Lie.
Untuk menyelamatkan diri sendiri...he..he
Mataku beralih pada hewan piaraan yang ada di sebelah pintu kamarku...waduh, banyak banget ada Hamster, ikan Louhan yang kubeli bersama ayah seminggu yang lalu, serta tarantula..Emh...menjijikkan banget!!! Masak hewan piaraan jadi satu kamar denganku? He..he
” Oh...bagus banget ya, disuruh bantu masak kok malah berdiri di kamar tanpa kerjaan” Ibu mengagetkanku dari belakang..
” Eh, Ibu..maaf ya bu...memang rencananya mau mbersihkan ma nata kamar..Tuh, lihat kan, posisinya gak karuan. Ada Hamster, trus rak buku yang gak tertata dengan bagus...Duh, aku bingung bu, mau mulai nata dari mana? Ucapku akhirnya, sambil berdoa dalam hati semoga Ibu tidak marah atas kebohonganku tadi.
” Oh...jadi kamu udah ada niat tuk nata kamarmu yang acak-acakan kayak kapal pecah ini ya? Sindir Ibu pelan-pelan.
” Ibu...jangan terus ngeledekin aku dong, kasih solusi gitu dong Bu..” Rengekku perlahan.
” Iya deh..Ibu kasih solusi. Pertama pilih dan pisahkan barang-barang yag masih berguna untuk disimpan di tempat tersendiri. Kemudian barang yang sekiranya tidak perlu misalnya kertas-kertas yang udah gak kepakai, dibuang ke tempat sampah.lalu buku-buku bekasmu bisa kamu sumbangkan ke panti Asuhan atau tetangga dekat kita yang membutuhkan buku itu, atau bisa juga buku-buku itu kamu tukar dengan buku yang lain di pasar tempat kamu biasanya membeli buku-buku itu..Gimana?” Urai ibu panjang lebar.
” Wah...hebat banget idenya, Ibu...” Teriakku gembira.
” Ya, dong!!! Siapa dulu ibunya...oke..sekarang kamu bersihin kamar kamu yang kayak kapal pecah ini ya...” pinta ibu
Ibu pun segera berlalu dari hadapanku, mungkin tidak tahan melihat pemandangan kamar yang memang seperti kapal pecah ini..
“ Mana yang harus kubersihkan dulu ya? Ucapku bingung.
Emh...akupun mulai mencari secarik kertas yang akan kugunakan untuk merenovasi kamarku...duh..mana lagi kertas kosong...semuanya penuh dengan coretan di mana-mana. Ah...ini udah ketemu..aku mulai membuat rancangan. Terlebih dahulu aku bertanya dalam hati, kenapa aku bisa memutuskan untuk mengganti kamarku ini..apa ya kira-kira? Yup..tentu saja karena selain bosan, akupun ingin memberikan ganti rupa atas kamarku ini..yah pertanyaan pertama mulai terjawab. Trus kapan ya, hari renovasinya? Kupikir-pikir, sekarang dan hari inilah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Kemudian mataku tertumbuk pada karpet dan dinding di sudut kamarku. Yup...harus diganti warnanya agar lebih menarik.mungkin dengan warna nuansa hitam putih akan lebih memberikan nuansa yang beda. Kemudian apalagi ya? Oh..iya bagian yang penting dan tak terlupakan adalah aku harus membuat denah kamarku, untuk penataan semuanya..aku mulai menggambar mulai dari sudut jendela, pintu, soket hingga pada lampu kamarku.. trus apalagi ya? Pikirku...
“ Okta..sudah belum menata ka....” ucapan ibu terpotong seketika ketika melihat kamarku yang masih seperti kapal pecah..
” Apa yang kamu lakukan dari tadi, sayangku” ucap Ibu marah..
” He..he aku lagi mikir plus ngerancang, kira-kira apa yang akan kulakukan pertama kali Ibu terhadap kamar ini...’ ucapku membela diri..
” Waduh...waduh nata kamar kok pakai acara ngerancang-ngerancang segala, seperti arsitek saja”. Potong Ibu
” Ya..iya dong Bu, sapa dulu Ibunya” Ucapku..
” Oke...jam berapa kamu mulai nata kamarnya? Ini dah dzuhur lho..”
” Wah...dah dzuhur? Gawat...Aku ada latihan basket jam 2 nanti...ya dah bu aku mau shalat plus cicipin cumi-cumi goreng yang sudah ibu masak...” Ucapku sambil berlalu..
” Hey...Okta, trus kapan kamu mulai nata kamarnya?”Tanya Ibu.
” Lain kali saja bu.... ” Teriakku dari kamar mandi
Aku sudah bisa membayangkan bagaimana ekspresi Ibu, pasti bengong, bingung sama anak semata wayangnya ini, he..he.
 
Langkah Merencanakan Cerita

Oleh : Oktavia Catur Handini


Menurut seorang pengarang Amerika yaitu Frank Bernett dalam buku Nulis cerpen yuk karya Mohammad Diponegoro, ada lima langkah dalam merencanakan sebuah cerita, antaralain sebagai berikut.
1. Menghadapkan tokoh cerita dengan masalah atau beberapa masalah untuk diselesaikannya
2. Menciptakan penyelesaian logis dan memuaskan dari masalah tersebut bagi tokoh cerita
3. Menulis penutup cerita. Menurut Bernett dengan demikian ia akan tahu betul apa yang akan dikatakannya dalam cerita itu. Tujuan ceritanya sudah jadi jelas dan karenanya ia dapat yakin bahwa cerita itu berharga untuk ditulis
4. Menulis satu atau dua paragraf pembukaan dari cerita
5. Barulah disusun sebuah plot, yaitu pengaturan adegan dan insiden, dengan cara bagaimana sang tokoh menyelesaikan masalahnya tersebut pada langkah 2.

Tentang Unsur-unsur Intrinsik Cerpen...

Unsur-unsur Intrinsik Cerpen

Oleh : Oktavia Catur Handini


Menurut Nurgiyantoro dalam bukunya Pengkajian Prosa Fiksi unsur- unsur intrinsik ialah unsur- unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur- Unsur-unsur intrinsik tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Tema cerita
Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat ”mengikat” kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. Tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita, maka tema pun bersifat menjiwai seluruh bagian cerita itu. Tema mempunyai generalisasi yang umum, lebih luas dan abstrak.



2. Alur Cerita
Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi.
Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.
Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa alur cerita ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat.

3. Penokohan
Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering dipergunakan istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama , yang oleh pembaca ditafsirkan memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita
Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita.

4. Latar
Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Menurut Nadjid (2003:25) latar ialah penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi
Menurut Nurgiyantoro (2004:227—233) unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut.

a. Latar Tempat
Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu.



b. Latar Waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah ” kapan ” terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah ”kapan” teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu
c. Latar Sosial
Latar sosial mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan.

5. Sudut Pandang
Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu.
Ada beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk membedakan sudut pandang. Pertanyaan tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan ”aku”, atau seperti tak seorang pun)?
2. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti-ganti)?
3. Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikirn, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?
4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)?
Selain itu pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama.
a. Sudut pandang persona ketiga : ”Dia”
Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya ”Dia”, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak.
Sudut pandang ”dia”dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh ”dia”, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan ”pengertian” terhadap tokoh ”dia” yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja.
1) ”Dia” mahatahu
Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut ”dia”, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh ”dia” tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh ”dia”yang satu ke ”dia” yang lain, menceritakan atau sebaliknya ”menyembunyikan” ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata.
2) ”Dia” terbatas, ”Dia” sebagai pengamat
Dalam sudut pandang ”dia” terbatas, seperti halnya dalam”dia”mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh ”dia”, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama.


b. Sudut Pandang Persona Pertama: ”Aku”
Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), ”aku”. Jadi: gaya ”aku”, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si ”aku” tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si ”aku” tersebut.
1) ”Aku” tokoh utama
Dalam sudut pandang teknik ini, si ”aku” mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si ”aku”menjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si ”aku”, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si ”aku” menjadi tokoh utama (first person central).
2) ”Aku” tokoh tambahan
Dalam sudut pandang ini, tokoh ”aku” muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh ”aku” hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian ”dibiarkan” untuk mengisahkan sendiri berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si ”aku”tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.
Dengan demikian si ”aku” hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si ”aku” pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita.

6. Gaya Bahasa dan Nada
Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas. Nada pada karya sastra merupakan ekspresi jiwa.





Apa Itu Cerpen ?

APA ITU CERPEN ?

Oleh : Oktavia Catur Handini



Menurut Marahimin dalam bukunya Menulis Secara Populer, cerpen bukan penggalan sebuah novel, bukan pula sebuah novel yang disingkat, akan tetapi Cerpen itu adalah sebuah cerita rekaan yang lengkap.

Pengarang cerpen hanya ingin mengemukakan suatu hal secara tajam. Ini sebabnya dalam cerpen amat dituntut ekonomi bahasa. Segalanya harus terseleksi secara ketat, agar apa yang hendak dikemukakan sampai pada pembacanya secara tajam. Ketajaman inilah sebagai tujuan penulisan cerita pendek.

Di dalam cerpen, tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, hanya seorang, atau sekitar empat orang paling banyak, itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh, atau tokoh-tokoh, itu diungkapkan di dalam cerita. Fokus, atau pusat perhatian di dalam cerita itu pun hanya satu. Konfliknya pun hanya satu, dan ketika cerita itu pun dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Tinggal bagaimana menyelesaikannya saja.

Karena pendeknya, cerpen biasanya tidak ditemukan adanya perkembangan di dalam cerita itu. Peristiwanya singkat, kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh pun tidak berkembang, dan tidak ditemukan adanya perubahan nasib tokoh. Dan ketika konflik yang hanya satu itu terselesaikan, sehingga tidak dapat diketahui bagaimana kelanjutan cerita itu.

Lebih lanjut, Nadjid dalam bukunya Apresiasi Prosa Fiksi, cerpen ialah prosa fiksi yang relatif pendek. Kependekan tersebut tentulah sangat berkaitan erat dengan tema atau permasalahan yang diangkat dalam suatu cerita. Meskipun demikian, sebuah cerpen tidak dapat dikatakan sebagai bentuk novel yang dipendekkan dan bukan pula sebagai bagian atau fragmen dari sebuah novel.

Kharakteristik cerpen antara lain sebagai berikut.
1. Memiliki alur tunggal
2. Jumlah pelaku/ tokoh yang terbatas (berjumlah kecil)
3. Mencangkup peristiwa yang terbatas pula
4. Kualitas watak tokoh dalam cerpen jarang dikembangkan secara penuh
5. Watak tokoh cenderung dibatasi
6. Karakter tokoh dalam cerpen langsung ditunjukkan oleh pengarangnya melalui narasi, deskripsi atau komentar.
7. Rentang waktu cerita yang terbatas, misalnya semalam, sehari, seminggu, sebulan dan yang lain.

Sabtu, 29 Maret 2008

5 Langkah Merencanakan Cerita

5 Langkah Merencanakan Cerpen


Oleh : Oktavia Catur Handini





Pertama, cerpen harus pendek. Artinya cukup pendek untuk dibaca dalam sekali duduk/ cerpen memberi kesan pada pembacanya secara terus-menerus, tanpa terputus-putus, sampai kalimat yang terakhir. Cerpen bagaikan kain ketat, tidak banyak emberi kelonggaran. Pengarang cerpen yang berpengalaman akan selalu berusaha menghindari perangkap uraian panjang tentang tokoh cerita atau pemandangan alam. Dialog dipeerlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita, atau menampilkan problem, baru kemudian tokoh cerita.

Kedua, cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik punya ketunggalan pikiran dan aksi yang bisa dikembangkan lewat sebuah garis yang berlangsung dari awal sampai akhir.
Ketiga, cerpen harus ketat dan padat, seorang cerpenis tidak usah iri hati pada novelis yang leluasa menghamburkan berjuta-juta detail-uraian-uraian yang berkilometer panjangnya, dan beraneka ragam kejadian dalam tulisannya. Cerpen harus berusaha memadatkan tiap detail pada ruangan yang sekecil mungkin. Maksudnya tidak lain agar pembaca mendapat kesan tunggal dari keseluruhan cerita.

Keempat, cerpen harus tampak sungguhan. Jadi, khayal, tapi seperti betul-betul terjadi. Memang tampak sungguhan ialah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi tidak boleh tampak hanya buatan, jadi tiap penulis cerpen harus dapat menguasai dan mengolah bahasa, agar bisa mengadakan eksperimen sendiri dengan susunan bahasa, pemakaian kata-kata, dan sebagainya.

Kelima, cerpen harus memberi kesan tuntas. Selesai membaca cerpen, pembaca harus merasakan cerita itu betul-betul rampung. Cerita itu memang berhenti pada satu titik yang tidak bisa lain.tidak boleh tidak, tapi cerita itu hanya harus berhenti pada titik itu saja. Karena jika ujung cerita itu masih terkatung-katung pembaca akan merasa kecewa.





Sabtu, 01 Maret 2008

Bismillahirrohmanirrohim

Bismillahirrohmanirrohim...
Alhamdulillah...akhirnya pembuatan blog ini pun selesai juga...
Semoga bisa lebih bermanfaat dunia akhirat....menjadi akses bagi dunia pendidikan khususnya, serta mutiara bagi kehidupan akhirat...
Allohumma Amin...