Siluet Senja untuk Cinta
Langit itu mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasai oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung ataupun hujan sekalipun. “tidak….tidak akan terjadi hujan” bisikku lirih,diantara seribu kegundahan yang mulai menembus labirin dalam persendian dan relung hati, mencoba tuk mengeja bahakan berkata dalam kebingungan yang besar “Bunda akan pulang Nak, tunggu dengan sabar ya!” itulah kalimat bunda yang kudengar di telepon, waktu aku menanyakan kapan kedatangannya. Aku sudah tidak sabar menantinya. Bunda berjanji akan pulang membawakan hadiah boneka yang bagus…yang pasti juga cantik seperti diriku, katanya.
Kutatap lagi langit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
“ Emh…Bunda masak apa nih? Baunya sedap banget!!! Itu kan cuni-cumi goreng kesukaan Cinta, benar kan Bunda? Tanyaku waktu itu.
” Iya...Cinta, Bunda lagi masak makanan kesukaanmu” ucap Bunda lembut.
” Juga kesukaan papa kan...Bunda” ucapku riang.
Namun sepi, karena selanjutnya yang kudengar hanya bunyi penggorengan yang beradu dengan dentingan pisau.
” Pasti Bunda lagi sibuk banget” pikirku. Aku segera beranjak pergi meninggalkannya. Yah...mungkin ke taman bunga di belakang rumah akan menyejukkan dan membuat pikiranku menjadi jernih kembali.
Sudah ketiga kalinya bunda selalu menghindar, ketika kutanyakan perhal tentang papa. Sosok yang seharusnya menemaniku pada masa-masa sulit seperti ini. Masa yang benar-benar aku ingin merasakan dukungan dari keluarga, yang setidaknya bisa membebaskanku dari segala kejenuhan hidup, dan perlahan dapat memberi warna tersendiri bagi jiwa, meskipun aku tidak pernah dapat merasakan warna sesungguhnya, mungkin selamanya.
Papa...sosok yang begitu kuyakini dapat mendukung sepenuhnya, membuat hidupku kembali seperti senja yang menawarkan beribu keindahan dalam tiap hati manusia ketika bersamaku, menebarkan aroma keharuman dalam hati yang telah lama rapuh untuk beberapa saat, dan kini untuk waktu yang lama, bahkan sampai akhir hayat.
Papa...sosok yang akhirnya kuketahui nahwa ia telah meninggalkanku dan bunda, ketika vonis dokter yang mengatakan seperti itu. Vonis yang seharusnya tudak ditimpakan untukku, karena aku tidak pernah tahu tentang jalan hidup yang akhirnya seperti ini, membuat keluarga yang kucintai harus berpisah karena kehadiran seorang Cinta Restu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama yang cantik.
aang juga akan memberi berkah bagi masyarakat sekitbagi diri dan keluarRestu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama Nama yang diharapkan dapat membawa kebahagiaan dan cinta bagi diri dan keluarganya. Vonis itu...yang seharusnya bukan untukku!!! Tapi aku sadari di usia yang ke-19 tahun ini, bahwa ternyata aku hanyalah sebuah lakon kehidupan yang mementaskan sebuah peran di atas panggung sandiwara yang penuh dengan segala liku-iku kemunafikannya.
Aku tak punya pilihan untuk meminta peran yang lebih baik, karena memang aku hanyalah sebuah lakon yang pasrah pada keputusan sang Sutradara. Andai aku dapat meminta peran yang lebih baik daripada hidupku sekarang ini, pasti aku akan meminta pada sang Sutradara untuk mengembalikan keluargaku dan mematikan saja peranku. Yah...mungkin jika diberi pilihan, maka pilihan yang terbaik yang kan kuambil ialah aku tidak ingin dilahhirkan ke dunia ini, dunia yang menurutku penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan juga kemunafikan.
Masih coba kutatap lagi kangit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
” Bunda...aku ingin bertanya tentang satu hal” akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur pada bibirku, setelah 19 tahun aku memendam perasaan ini. Pertanyaan yang seharusnya tak kuucapkan dari bibir bodoh ini, karena aku yakin akan membuat hati bunda terluka. Tetapi, sungguh, kali ini aku tak peduli, aku ingin mengetahui keberadaan tentang papa.
” Yah...bertanyalah Cinta..”Ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutku
Yah...Bunda selalu begitu, beliau ingin meyakinkanku bahwa dia akan memberikan jawaban yang bagus dan tentu saja akan membuatku selalu puas. Bunda memang istimewa bagiku!!! Emh..sejak kapan Papa pergi meninggalkan rumah ini, bunda? Dengan penuh keraguan, dan entah kekuatan besar apakah yang menyusup dalam jiwa, sehingga membuatku berani bertanya tentang hal yang sebelumnya aku telah berjanji untuk tidak akan pernah membuka kenangan lama itu. Tapi...aku butuh jawaban itu, sekarang!!!
Sebelum semuanya terlambat. Tapi apakah masih belum dapat dikatakan terlambat bila aku telah menunggunya selama 19 tahun??? Mengapa engkau tanyakan hal seperti itu lagi, cinta? Tanya bunda kembali, masih dengan suara yang lembut. Tapi perlahan, aku mendengar perubahan suaranya yang mulai berubah. Menangiskah oa, marahkah ia padaku?
” Aku hanya ingin mengetahuinya, bunda” jawabku lirih sambil mencoba meraih bahu bunda,aku ingin memeluknya.
” Cinta...apakah kehadiran Bunda bagimu belum cukup untuk menggantikan seorang papa? Gumam bunda perlahan. Aku merasakan ada goresan kesedihan yang ada di wajahnya. Wajah Bunda yang mungkin sangat cantik, melebihi kecantikan yang ada pada diriku, seperti yang yang dikatakan orang-orang padaku. Itulah pertanyaan terakhir yang kulontarkan pada bunda. Biarlah aku akan berfikir tentang sosok papa yang aku rasakan dan gambar dalam imajinasiku saat ini, biarlah aku tidak pernah mengenal tentang siapa nama dan wajahku sesungguhnya, karena aku tidak memerlukannya. Toh...bagiku bunda sudah cukup.
Aku tidak mau menyakiti hati bunda lagi dan menorehkan kembali luka di hati sucinya hanya untuk sebuah pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang sudah coba untuk kukuburkan selama 19 tahun ini. Maafkan Cinta Bunda, karena bagiku kau sudah cukup bahkan lebih daripada sekedar menggantikan tempat papa di sampingku.
Masih coba kutatap lagi langit yang mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
Tapi...ternyata hari ini aku salah, hari ini mungkin langit tidak cerah, langit tidak berwarna biru bersih dan langit tidak dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya.
” Itu yang namanya siluet senja, cinta” ucap Bunda saat membawaku ke sebuah pantai yang kata beliau sangat indah, bila aku dapat melihatnya, tentu saja melihat dengan bayangan hatiku.
” ada berbagai warna berpendar di sana, diantara siluet senja. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, Cinta. Senja tak pernah mengeluh dalam memberikan penerangan bagi umat di dunia. Ia harus jadi lentera dan pelita yang indah bagi penduduk bumi, walaupun dengan itu, ia harus rela berkorban untuk terus menerus berganti warna. Senja tak perlu menyadari, apa makna pergantian warna baginya, karena ia tak cukup banyak waktu untuk melihat keindahan yang ada pada dirinya sendiri. Ia sudah cukup bersyukur dengan cahayanya yang sangat cantik menurut banyak orang, karena ia takkan pernah melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar yang menurut dia akan berkata jujjur tentang kecantikan yang selama ini dibicarakan orang tentang dirinya.
Yang perlu ia tahu ialah bahwa orang-orang di sekitarnya sangat menantikan kedatangan sang senja. Ia tidak perlu melihat dengan matanya, karena ia punya mata yang lebih peka dari sepasang mata yang menurut senja penuh kemunafikan. Mata itu adalah mata hati. Sekali lagi ia tidak perlu melihat dengan sepasang matanya tentang kekaguman orang-orang di sekitar akan cahayanya yang indah, karena itu dengarlah Cinta, sesunguhnya Tuhan lebih tahu akan hati seorang senja dengan mengambil sepasang matanya, agar ia dapat merasakan tentang kepuasan jiwa akan sinar yang dipancarkan oleh sang pencipta.
Tuhan tidak pernah tidur, Cinta....karena ia telah berkenan mengganti mata senja dengan sebuah mata Tuhan. Mata hati yang lebih suci, yang tidak akan pernah berbohong, tentang suatu hal dalam kehidupan” ucap bunda panjang lebar di akhir pembicaraanya.
” Maafkan Aku Bunda!!!” ucapku pelan, tak dapat kupendam segala haru biru yang menghimpit persendianku, saat kucoba berdiri dari tanah merah basah yang sedari tadi terdiam menyemayamkan tubuh bidadariku, bundaku untuk yang terakhir kalinya. Masih kupeluk erat boneka yang dulu pernah diberikan bunda di usia19 tahun yang lalu...
Kutatap lagi langit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
“ Emh…Bunda masak apa nih? Baunya sedap banget!!! Itu kan cuni-cumi goreng kesukaan Cinta, benar kan Bunda? Tanyaku waktu itu.
” Iya...Cinta, Bunda lagi masak makanan kesukaanmu” ucap Bunda lembut.
” Juga kesukaan papa kan...Bunda” ucapku riang.
Namun sepi, karena selanjutnya yang kudengar hanya bunyi penggorengan yang beradu dengan dentingan pisau.
” Pasti Bunda lagi sibuk banget” pikirku. Aku segera beranjak pergi meninggalkannya. Yah...mungkin ke taman bunga di belakang rumah akan menyejukkan dan membuat pikiranku menjadi jernih kembali.
*****
Sudah ketiga kalinya bunda selalu menghindar, ketika kutanyakan perhal tentang papa. Sosok yang seharusnya menemaniku pada masa-masa sulit seperti ini. Masa yang benar-benar aku ingin merasakan dukungan dari keluarga, yang setidaknya bisa membebaskanku dari segala kejenuhan hidup, dan perlahan dapat memberi warna tersendiri bagi jiwa, meskipun aku tidak pernah dapat merasakan warna sesungguhnya, mungkin selamanya.
Papa...sosok yang begitu kuyakini dapat mendukung sepenuhnya, membuat hidupku kembali seperti senja yang menawarkan beribu keindahan dalam tiap hati manusia ketika bersamaku, menebarkan aroma keharuman dalam hati yang telah lama rapuh untuk beberapa saat, dan kini untuk waktu yang lama, bahkan sampai akhir hayat.
Papa...sosok yang akhirnya kuketahui nahwa ia telah meninggalkanku dan bunda, ketika vonis dokter yang mengatakan seperti itu. Vonis yang seharusnya tudak ditimpakan untukku, karena aku tidak pernah tahu tentang jalan hidup yang akhirnya seperti ini, membuat keluarga yang kucintai harus berpisah karena kehadiran seorang Cinta Restu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama yang cantik.
aang juga akan memberi berkah bagi masyarakat sekitbagi diri dan keluarRestu Ayu, bayi yang sebelumnya sempat mereka beri nama Nama yang diharapkan dapat membawa kebahagiaan dan cinta bagi diri dan keluarganya. Vonis itu...yang seharusnya bukan untukku!!! Tapi aku sadari di usia yang ke-19 tahun ini, bahwa ternyata aku hanyalah sebuah lakon kehidupan yang mementaskan sebuah peran di atas panggung sandiwara yang penuh dengan segala liku-iku kemunafikannya.
Aku tak punya pilihan untuk meminta peran yang lebih baik, karena memang aku hanyalah sebuah lakon yang pasrah pada keputusan sang Sutradara. Andai aku dapat meminta peran yang lebih baik daripada hidupku sekarang ini, pasti aku akan meminta pada sang Sutradara untuk mengembalikan keluargaku dan mematikan saja peranku. Yah...mungkin jika diberi pilihan, maka pilihan yang terbaik yang kan kuambil ialah aku tidak ingin dilahhirkan ke dunia ini, dunia yang menurutku penuh dengan ketidakadilan, kekerasan, dan juga kemunafikan.
*****
Masih coba kutatap lagi kangit itu, mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
” Bunda...aku ingin bertanya tentang satu hal” akhirnya pertanyaan itulah yang meluncur pada bibirku, setelah 19 tahun aku memendam perasaan ini. Pertanyaan yang seharusnya tak kuucapkan dari bibir bodoh ini, karena aku yakin akan membuat hati bunda terluka. Tetapi, sungguh, kali ini aku tak peduli, aku ingin mengetahui keberadaan tentang papa.
” Yah...bertanyalah Cinta..”Ucap Bunda lembut sambil mengelus rambutku
Yah...Bunda selalu begitu, beliau ingin meyakinkanku bahwa dia akan memberikan jawaban yang bagus dan tentu saja akan membuatku selalu puas. Bunda memang istimewa bagiku!!! Emh..sejak kapan Papa pergi meninggalkan rumah ini, bunda? Dengan penuh keraguan, dan entah kekuatan besar apakah yang menyusup dalam jiwa, sehingga membuatku berani bertanya tentang hal yang sebelumnya aku telah berjanji untuk tidak akan pernah membuka kenangan lama itu. Tapi...aku butuh jawaban itu, sekarang!!!
Sebelum semuanya terlambat. Tapi apakah masih belum dapat dikatakan terlambat bila aku telah menunggunya selama 19 tahun??? Mengapa engkau tanyakan hal seperti itu lagi, cinta? Tanya bunda kembali, masih dengan suara yang lembut. Tapi perlahan, aku mendengar perubahan suaranya yang mulai berubah. Menangiskah oa, marahkah ia padaku?
” Aku hanya ingin mengetahuinya, bunda” jawabku lirih sambil mencoba meraih bahu bunda,aku ingin memeluknya.
” Cinta...apakah kehadiran Bunda bagimu belum cukup untuk menggantikan seorang papa? Gumam bunda perlahan. Aku merasakan ada goresan kesedihan yang ada di wajahnya. Wajah Bunda yang mungkin sangat cantik, melebihi kecantikan yang ada pada diriku, seperti yang yang dikatakan orang-orang padaku. Itulah pertanyaan terakhir yang kulontarkan pada bunda. Biarlah aku akan berfikir tentang sosok papa yang aku rasakan dan gambar dalam imajinasiku saat ini, biarlah aku tidak pernah mengenal tentang siapa nama dan wajahku sesungguhnya, karena aku tidak memerlukannya. Toh...bagiku bunda sudah cukup.
Aku tidak mau menyakiti hati bunda lagi dan menorehkan kembali luka di hati sucinya hanya untuk sebuah pertanyaan bodoh. Pertanyaan yang sudah coba untuk kukuburkan selama 19 tahun ini. Maafkan Cinta Bunda, karena bagiku kau sudah cukup bahkan lebih daripada sekedar menggantikan tempat papa di sampingku.
*****
Masih coba kutatap lagi langit yang mungkin begitu cerah, berwarna biru bersih, dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya. Awan putih yang indah, sebagai pertanda bahwa hari ini tidak akan terjadi mendung bahkan hujan sekalipun.
Tapi...ternyata hari ini aku salah, hari ini mungkin langit tidak cerah, langit tidak berwarna biru bersih dan langit tidak dihiasi oleh awan putih yang melingkarinya.
” Itu yang namanya siluet senja, cinta” ucap Bunda saat membawaku ke sebuah pantai yang kata beliau sangat indah, bila aku dapat melihatnya, tentu saja melihat dengan bayangan hatiku.
” ada berbagai warna berpendar di sana, diantara siluet senja. Seperti itulah hidup yang harus kita jalani, Cinta. Senja tak pernah mengeluh dalam memberikan penerangan bagi umat di dunia. Ia harus jadi lentera dan pelita yang indah bagi penduduk bumi, walaupun dengan itu, ia harus rela berkorban untuk terus menerus berganti warna. Senja tak perlu menyadari, apa makna pergantian warna baginya, karena ia tak cukup banyak waktu untuk melihat keindahan yang ada pada dirinya sendiri. Ia sudah cukup bersyukur dengan cahayanya yang sangat cantik menurut banyak orang, karena ia takkan pernah melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar yang menurut dia akan berkata jujjur tentang kecantikan yang selama ini dibicarakan orang tentang dirinya.
Yang perlu ia tahu ialah bahwa orang-orang di sekitarnya sangat menantikan kedatangan sang senja. Ia tidak perlu melihat dengan matanya, karena ia punya mata yang lebih peka dari sepasang mata yang menurut senja penuh kemunafikan. Mata itu adalah mata hati. Sekali lagi ia tidak perlu melihat dengan sepasang matanya tentang kekaguman orang-orang di sekitar akan cahayanya yang indah, karena itu dengarlah Cinta, sesunguhnya Tuhan lebih tahu akan hati seorang senja dengan mengambil sepasang matanya, agar ia dapat merasakan tentang kepuasan jiwa akan sinar yang dipancarkan oleh sang pencipta.
Tuhan tidak pernah tidur, Cinta....karena ia telah berkenan mengganti mata senja dengan sebuah mata Tuhan. Mata hati yang lebih suci, yang tidak akan pernah berbohong, tentang suatu hal dalam kehidupan” ucap bunda panjang lebar di akhir pembicaraanya.
*****
” Maafkan Aku Bunda!!!” ucapku pelan, tak dapat kupendam segala haru biru yang menghimpit persendianku, saat kucoba berdiri dari tanah merah basah yang sedari tadi terdiam menyemayamkan tubuh bidadariku, bundaku untuk yang terakhir kalinya. Masih kupeluk erat boneka yang dulu pernah diberikan bunda di usia19 tahun yang lalu...
Selamat jalan Bunda, semoga kau bahagia di sisi-Nya...Amin

0 komentar:
Poskan Komentar