Kamis, 17 April 2008

MENANTI RINDU DI ATAS PUSARA



Hai jiwa yang tenang
Kembalilah pada TuhanMu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku
Dan masuklah ke dalam surgaku (Q.S.AL Fajr Ayat 27-30)



Akhir April 2006, Surabaya, Kala Matahari Tenggelam

Kusibakkan tirai biru bermotif kotak-kotak, yang sedari tadi menutup jendela kamarku.Kulirik seiko di pergelangan tangan kananku.
Emh...masih belum terlalu malam, untuk kembali menyelesaikan satu lagi tugas dari Dosen Favoritku,yah...lagi-lagi aku harus membuat cerpen.Kali ini cerpen tentang pengalaman kisah hidup kilas balik (flash back).Duh...kira-kira apa yang akan kutulis pada cerpen ini yah??.Sesaat aku merenung, pandanganku tertuju pada diari mungil yang bersandar manis pada tumpukan kumpulan cerpen-cerpen lawasku,cerpen yang belum sempat kupublikasikan ke media massa atau ...jangan-jangan cerpen-cerpen itu yang pernah dikembalikan oleh media massa karena tak layak muat..he..he..he
Kapan yah, terakhir kali penaku menari-nari diatas diari mungil itu??
Uff...Kutiup keras-keras debu yang melekat pada sebagian diari mungil itu,yang tentu saja berwarna biru, warna favoritku, dengan tebal kira-kira 100 halaman. Perlahan ...kucoba kembali membuka halaman demi halaman di dalamnya, dan tertulis...


22 Desember 2005, Kala Fajar Merekah


Hari ini, kembali aku menemukan senyuman terindah dari seseorang.Seseorang yang pernah membuat hidupku terlalu” berharga”untuk ditelantarkan.Seseorang yang pernah membuat hidupku benar-benar seperti ”emas” yang tentu saja,membuat orang lain merasa iri untuk melihatnya.Dan juga seseorang yang pernah....walaupun sebentar mengajariku tentang arti kehidupan yang sebenarnya, serta seseorang yang selalu menghibur dan memanjakanku setiap waktu...
Tapi, sayang, senyuman itu hanya ada dalam bingkai foto ukuran 20cmx20cm yang tergantung dengan manis di dinding kamarku.
Saat fajar ini merekah dalam hidupku, aku ingin mengucap:

SELAMAT MEMPERINGATI HARI IBU



5 Juni 2001, Mojokerto Pagi

Kutatap setiap soal-soal EBTANAS tingkat SLTP Mata Pelajaran bahasa Indonesia dengan mata kabur. Kumainkan pensil 2B dan perlahan kuketuk-ketukkan ke bangku.

Tok..tok..tok.satu menit ...dua menit...tiga menit hanya kegiatan itulah yang berhasil aku lakukan. Kuperiksa kembali jawaban soal yang ada di dalam LJK(Lembar Jawaban Komputer), yang berwarna merah, masih serkitar sebagian yang terisi,masih jauh dari sempurna.Tapi ...aku sudah sudah bosan, aku jenuh!!!
Kucoba mengalihkan pandangan ke luar jendela, yang berada tepat disampingku. Kulihat seorang ibu menggendong anaknya yang sedang menangis. Perlahan tes...tes...tes air mataku tumpah di sela-sela pipiku.
Tuhan...tidak adil!!!!

3 juni 2001, Solo, Saat Kelabu

”Zahra ..sudah nduk, ayo kita pergi meningggalkan tempat ini!”ucap ayah lembut.
”Iya dek Zahra, biarkan bunda menempati tempat barunya dengan damai” sambung kak ana, kakakku tertuaku.
”Ayah, kak Ana, tolong tinggalkan aku sendirian disini, aku masih ingin bersama bunda, aku rindu bunda” ucapku di sela isak tangis yang semakin keras.
Detik ini,aku mengalami episode baru dalam hidupku, episode yang tidak mungkin terlupa sepanjang waktu. Episode yang telah tertulis dalam skenario langit-Nya.Yang memang aku harus tabah dalam memainkannya. Meskipun ironisnys aku tidak suka terhadap peran yang ditawarkan. Bukan!!!bukan ditawarkan, tetapi dibebankan di pundakku, tanpa sanggup untuk sekedar melawannya.

Kutatap sekali lagi, helaian kamboja yang jatuh tepat di atas gundukan tanah merah basah yang ada di depanku. Ada beberapa kelopak kamboja yang jatuh disekitar bunga-bunga yang telah lebih dahulu ditaburkan oleh kerabat keluargaku.
Aroma bunga yang menyeruak di sekitar pusara itu, seakan masih menyisakan sedikit riak kebencianku pada semuanya, pada Ayah, Kak Ana dan juga pada Tuhan, yang tega mengambil bunda dari sisiku.

2 Juni 2001,R.S D.R Moewardi Solo.

Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, ketika kakiku menjejakkan kaki di Rumah Sakit D.R.Moewardi Solo ini. Hanya ada setetes harapan dalam hati.Yah..hanya setetes karena harapanku telah terkubur untuk semuanya, harapan bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan bunda. Aku melangkah masuk kamar Cendana nomor 6. Tuhan...selamatkan bunda hamba, Engkau tahu aku ingin membahagiakannya sekali saja.Tuhan..ijinkan Aku, Aku mohon kepada-Mu, Aku ingin melihat senyum bunda untuk terakhir kalinya. Tuhan...jika Engkau berkenan, gantikan nyawaku untuk bunda...

Kulihat Ayahku, ada disamping bunda, beserta saudara-saudara yang lain. Ayah berair memelukku dengan erat, sambil berbisik lirih “Zahra, sabar nduk, Bundamu sudah menemukan tempat terbaik-Nya, yaitu di sisi-Nya, Ikhlaskan ya, Nduk”
Tak kudengar lagi, kelanjutan kata-kata Ayah, karena perlahan pandanganku terasa kabur, tubuhku melemah dan sempat kulihat bunda di sudut ruangan kamar ini, sedang tersenyum dan melambai padaku, dan selebihnya, aku tidak ingat apa-apa lagi.Tuhan...ini tidak adil bagiku!!!


31 MEI 2001

“Mengapa kak Ana, harus menyembunyikan semuai ini?”Tanyaku keras pada kak Ana suatu sore.
”Menyembunyikan apa Zahra? Apa maksudmu??”ucap kak Ana lembut
”Selama ini, kak Ana selalu bilang, bahwa keadaan bunda baik-baik saja, kakak juga bilang bahwa bunda akan sembuh, tapi apa??Ucapku dengan nada keras sambil melemparkan kertas yang sempat kutemukan kemarin di kamar bunda.
”Zahra,dengarkan kak Ana dulu jangan emosi”ucapku lembut.
”Kakak bohong!!!Mengapa tidak memberi kesempatan padaku untuk sekedar menjenguk bunda di rumah sakit D.R.Moerwardi atau sekedar tahu keadaan bunda,mengapa kak???”Ucapku dengan pandangan nanar.

”Zahra, kakak tau Zahra harus berkonsentrasi pada EBTANAS tahun ini, jadi kakak hanya ingin membuat Zahra tenang. Bunda sendiri memberikan amanah pada kakak agar melarang kamu menjenguk atau bahkan sekedar mengetahui kondisi Bunda. Bunda takut kamu akan down, begitu melihat kondisi bunda sesungguhnya.Yang terpenting kamu berdoa buat bunda

30 Mei 2001, Mojokerto menangis...

Hari ini, aku melihat fakta tentang semuanya, tentang kepura-puraan bunda yang menutupi semua penyakitnya, juga tentang kelihaian kak Ana menutupi semuanya, tentang penyakit bunda.
Yah...aku menemukan surat hasil check-up bunda selama 3 bulan terakhir ini, di laci kotak rias bunda, ketika tak sengaja aku ingin mengambil lipgloss yang sempat dipinjam oleh bunda tempo hari, aku berhasil menemukan fakta semuanya.
Itulah penyakit yang selama ini diderita bunda. Baru kali ini aku mengetahuinya, mengapa tidak dari dulu??? Sehingga aku bisa membahagiakannya??? Inikah yang dinamakan keadaan dalam kehidupan??? Ucapku keras.


27 April 2001, Mojokerto


” Apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu, kak? Tanyaku pada kak Ana.
” Tidak apa-apa dek” jawab kak Ana, sambil memalingkan wajahnya dariku, tapi terlambat, kulihat mata kak Ana memerah, dia menangis. Tuhan...ada apa sebenarnya???
” Bicaralah padaku tentang keadaan bunda, aku yakin aku kuat mendengarnya. Aku sudah kelas 3 SLTP, aku sudah dewasa bukan? Aku tidak perlu sebuah kepura-puraan, aku ingin kejujuran ” jawabku lemah.
” Zahra dengarkan kakak, bunda baik-baik saja, dan kamu masih ingat kan pesan bunda, sebelum beliau menjalani perawatan di rumah sakit D.R Moewardi Solo?” lanjut kak Ana lembut.
Yah...aku masih ingat, aku harus lulus EBTANAS SLTP tahun ini dan masuk SLTA I Puri Mojokerto dengan NEM yang bagus.
” Tapi, mengapa mesti dibawa ke Solo? Apa perawatan di Mojokerto atau Surabaya tidak canggih?” tanyaku hampir menangis.
” Sst...Zahra sayang, bunda memang lebih memilih di Solo, soalnya hawa di sana lebih tenang, lagian di sana kan banyak saudara-saudara kita, jadi kesehatan bunda lebih terjamin” terang kak Ana , berusaha meyakinkanku...
kulihat kedua mata kak Ana, mencoba mencari kejujuran di sana.
” kak Ana,nggak bohong kan? Tanyaku polos.
” Zahra, kak Ana nggak pernah bohong, percaya sama kak Ana ya...” ucap kak Ana sambil mencium keningku lembut.

25 Maret 2001, Mojokerto

Zahra belajarnya, jangan terlalu larut malam, nanti sakit lo...Dijaga dong kesehatannya, udah kelas 3 SLTP kok masih seperti anak kecil” kata Bunda sambil duduk di tepi ranjangku, sambil membawakan segelas susu cokelat untukku.
” Bunda...nanggung nih, bentar lagi juga selesai, bunda kan pingin liat aku lulus dengan NEM bagus kan? Ucapku bersemangat.
23 Maret 2001
” Zahra, kamu hafal surat yasin? Tanya Bunda
” Yasin??? Emh...nggak begitu hafal bunda, memangnya kenapa? Jawabku kala itu.
”lho kok gak hafal, Zahra kan ngaji sama Pak Ustadz udah lama, masak belum hafal-hafal” ucap bunda lembut.
” ya... emang ngajinya udah lama, tapi kalau surat yasin, mungkin sekitar 50 ayat pertamanya udah lumayan hafal. Memangnya buat apaan sih bunda? Tanyaku penuh tanya.
” Zahra...kalau sewaktu-waktu bunda dipanggil sama Tuhan, jangan lupa untuk selalu mendoakan bunda dengan surat yasin yah? Pinta Bunda.
” Bunda, kenapa mesti ngomong seperti itu, bunda nggak boleh meninggal, bunda harus terus hidup sampai Zahra jadi manusia yang bisa membahagiakan bunda.
” Zahra...umur orang kan kita nggak pernah tahu sayang” ucap bunda
” Bunda, kalau misalnya aku yang duluan gimana? Tanyaku tiba-tiba
” Zahra...bunda sayang banget sama kamu,lebih baik bunda yang lebih dulu meninggal, daripada harus melihat zahra yang meninggal lebih dulu.Zahra ingat kan, waktu Zahra harus diopname dirumah sakit, bunda merasa saat itulah jiwa bunda sudah hilang sebagian”
” Ah...bunda bisa saja” jawabku polos.

20 Maret 2001

”Bunda...lagi masak apa nih? Teriakku membuat kaget bunda
” Zahra...sudah pulang to, mana salamnya? Jawab bunda
” Udah kok bunda dari tadi, tapi bunda yang nggak dengar, aku kira nggak ada orang, ternyata sedang sibuk di dapur rupanya? Jawabku panjang lebar
”Ya..ya,anak cantik.Ini bunda lagi buat cumi-cumi goreng kesukaan kamu” ucap bunda lembut, sambil membawa piring penuh dengan cumi-cumi goreng ke dekat hidungku.
” Wah...asyik nih, makasih bunda: jawabku sambil memcium pipi bunda.


13 Maret 2006, Solo

Hari ini sudah 5 tahun bunda pergi meninggalkanku, meninggalkan semua kenangan yang pernah terajut dalam buaian kenyataan yang berpadu dalam suka dan duka. Kucium pusara bunda, sebelum air mata ini menetes semakin deras.

Maafkan aku Bunda, mungkin aku bukan anak yang shalihah, seperti yang bunda harapkan, bahkan disaat terakhir kalipun, aku tak sempat melihat wajah tenangmu, anak durhakakah aku, bunda???

Hanya doa tulus dan surat Yasin inilah yang bisa kuhadiahkan padamu tiap hari, agar kau tenang berada disisi-Nya. Moga engkau selalu menyertai langkahku, Bunda. Aku akan membuatmu bahagia, meskipun engkau hanya bisa menatapku dari surga.

SELAMAT ULANG TAHUN BUNDA...AKU SELALU MERINDUKANMU

1 komentar:

apin mengatakan...

assalamu alaikum mb.okta.....
mb.okta pa kbr?
mb.apin sayang sma mb....
apin g mau khilangan mb.
mb.okta dah kya mb.nya apin ndiri bahkan lebih...
apin g mau liat mb sedih....
tetap senyum ya mb.....